Artiseni

3 Senja: Wadah Kecintaan Musik Bukan Komersil

Bangku kuliah sering mempertemukan orang-orang dengan kesamaan hobi hingga membentuk suatu karya. Begitu pula yang terjadi pada 3 Senja. Band akustik asal Yogyakarta ini berawal dari kecintaan bermain musik tiga mahasiswa Argoindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta; Fendy Eskawan Nugraha, Eko Bagus Saputro, dan Julianto Saputra sepakat membentuk sebuah band di tahun 2014 sebagai wadah penyalur hobi dan kegelisahan mereka.


Fendy dan Bagus dari 3 Senja tampil berdua di Malam Nonton Sastra Artiseni Production /Foto: tangkapan layar kanal Youtube Artiseni Procduction)

Nama 3 Senja resmi mereka sandang dua tahun kemudian. Menurut Bagus, nama ini merepresentasikan pertemuan tiga mahasiswa satu kelas satu angkatan kuliah yang terbilang berumur lebih ‘tua’ dari mahasiswa lain. Sejak saat itu, 3 Senja manggung di mana saja, mulai dari undangan acara kampus, dies natalis fakultas, hingga café.

3 Senja berbeda dari band arus utama di televisi. Mereka menampilkan musik taman indie bergenre akustik folk.  Fendy dan Bagus menceritakan, mahasiswa waktu itu haus hiburan yang bukan standar TV. Begitu 3 Senja datang membawakan lagu indie, mahasiswa lain tertarik pada lagu dan aransemen mereka. Selama manggung, 3 Senja menghibur penonton dengan tidak mengajak mereka lompat-lompat seperti band lain, melainkan mendengarkan musik sambil duduk ngopi-ngopi.

Sayangnya, perjalanan musik 3 Senja mandhek ketika para personil lulus. Konser Dies Natalis Fakultas Psikologi bagi Fendy menjadi penampilan paling berkesan sekaligus pentas terakhir mereka. Sejak itu, mereka sibuk bekerja di luar kota dan 3 Senja pun vakum. Barulah pada konser Malam Nonton Sastra (Mantra) dari Artiseni Production tanggal 10 November 2020 lalu, 3 Senja menyempatkan diri kembali manggung walau hanya berdua tanpa Anto yang bekerja di Sulawesi.

“3 Senja bukan benda komersil,” ujar 3 Senja dalam wawancara.

Band ini memang bukan pekerjaan utama bagi ketiga personil. Namun, 3 Senja ada sebagai wadah kegelisahan, kejenuhan, dan pelampiasan hiburan bagi Fendy, Bagus, Anto, serta para pendengarnya. Walau tidak lagi aktif, keterbatasan ruang dan waktu di antara ketiga personil bukanlah halangan kegiatan mereka. Buktinya, alam mempertemukan mereka di pangung lagi setelah 1-2 tahun vakum. Bagus berharap, 3 Senja bisa menjadi cerita perjalanan mereka untuk anak-cucu nanti.

“Kalau saya, paling enggak ada karya kreativitas dulu (seperti album atau lagu) sebagai bukti 3 Senja pernah ada dan berkarya. Mungkin akan lebih bagus saat diceritakan,” ujar Fendy.

Penulis: Erwina Rachmi

Penyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X