Artiseni

BAYANGAN HITAM

Karya Pulung LA

Sesosok bayangan hitam tampak duduk dikursi menatap ke arah tubuh seorang pemuda yang tertidur pulas. Disela bibirnya air liur meleleh membasahi sprei tempat tidur, wajahnya yang pucat seperti menahan sakit yang amat sangat. Pemuda itu mabuk berat, setelah meminum bergelas-gelas vodka di kafe tempat segala kebingungan dan keresahan hidup membuncah oleh hingar- bingar canda dan gelak tawa. Musik blues yang mengalun menyayat hati yang sunyi, nyeri dan senyap melarikan diri dari kenyataan yang mengejek hidup.

Bayangan hitam berdiri melangkah mendekati jendela dan menatap keluar. Lampu-lampu yang warna-warni gemerlapan menerangi tiap-tiap sudut kota yang remang. Kepalanya mendongak menatap langit. Bulan yang bulat terang tersenyum bermandikan cahaya dan bintang- bintang yang berjajar bagaikan para bidadari yang mengantarkan sang ratu menuju peraduannya. Masih terdiam menatap langit hanya gerakan- gerakan kecil dari tubuhnya yang mengisyaratkan kegelisahan yang begitu dalam. Sesaat kemudian ia bergumam.

“ Begitu indahnya dunia ini, cahaya bergemerlapan, angin yang berhembus menerpa tubuhku dan cahaya bulan itu menghangatkan hatiku.” Ia tersenyum sebentar dan raut mukanya tiba-tiba berubah masam, berkerut-kerut.

“ Ah… sial.. tetapi aku… Aku tidak bisa menikmatinya, aku ada tetapi aku tidak mampu hidup sendiri tanpa tubuhku yang tertidur di ranjang itu. “ Bodoh… Bodoh… Kenapa aku jadi seperti ini? “ Ah… Desahan kemarahan karena jengkel dengan dirinya sendiri.

Tubuhnya berbalik melangkah menuju ranjang kemudian menatap tubuh pemuda itu.                  “ Kenapa kau selalu menahanku, memenjarakanku dalam duniamu yang gelap, dingin dan sunyi. Menghela nafas. “Dari lahir hingga sekarang aku selalu menurutimu, mengikuti apa yang kau inginkan dan tak pernah sedikitpun aku mengkhianatimu. “Aku selalu setia padamu. Bola matanya membesar tampak api menyala merah pada lensa matanya.

“ Tetapi … Tetapi kamu tidak pernah memberikan aku kebebasan sedikitpun, Aku kamu penjarakan dalam jiwamu yang busuk, kamu perbudak dan kamu eksploitasi tubuhku tanpa pernah merasa bersalah. “Kamu tidak pernah memahamiku… Aku ada… Aku nyata… Kamu sering melihatku saat cahaya menyinari tubuhmu, aku selalu di belakangmu,di sampingmu atau di depanmu. Suaranya semakin lirih dan bergetar tak kuat menahan isak tangis dan akhirnya ia menangis.

Tangisan yang perih karena harga dirinya tercabik oleh sayatan pisau kenyataan. Ia terduduk di pinggir ranjang dan wajahnya menghadap tembok kamar. Air matanya berkilauan membasahi pipinya. Bertanya ke dalam dirinya sendiri.

“Kenapa… Kenapa semua orang selalu mengabaikanku, meremehkanku bahkan menganggapku tidak ada, dan kenyataannya aku selalu hadir bersama mereka. “ Tetapi semua orang tidak pernah memperdulikan perasaanku, aku hanyalah bayangan yang patut dipersalahkan dan dituding sebagai sesuatu yang mengganggu. Menatap lekat-lekat pada wajah pemuda yang tertidur itu. “ Kamu… Kamulah yang patut dipersalahkan atas sikap dan prilakumu yang busuk dan jahat itu, tetapi kamu selalu berhasil membuatku merasa bersalah dan tersiksa. “ Aku… Aku kecewa sekali denganmu. Berdiri berjalan mondar- mandir. Menatap lampu, kembali mondar- mandir.

“ Apakah kamu ingat sewaktu ibu memarahimu karena kamu ketahuan mencuri uang dalam dompet yang ditaruhnya di atas meja rias. Ibu yang berdiri dipintu mengamatimu mengambil selembar uang sepuluh ribu dan kamu masukkan kesaku celanamu.

“ Dasar penjahat kecil!  Kenapa kamu mencuri uang ibu! 

“ Bletak.” Sapu di tangan ibu melayang dan mendarat di pantat. “ Kamu yang terkejut segera membantah tuduhan ibu.

“ Tidak… Tidak bu Joni tidak mengambil uang ibu. Tangan ibu segera memegang telingamu, menjewernya dan menyeretmu ke ruang tamu dan mendudukkanmu di lantai.

“ Kamu mulai bisa berbohong sama ibu, siapa yang mengajarimu berbohong?

“ Tidak… Tidak bu Joni tidak berbohong. Sungguh.

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X