Artiseni

Danendra

Enam tahun silam

Suara tangis terdengar

Suara teriakan bergema

Rasa haru memenuhi ruangan

Enam tahun silam

Semesta menitipkanmu

Mempercayakanmu hadir

Berharap mampu bersama selamanya

Tapi empat tahun terakhir berbeda

Empat tahun yang tak lagi sama

“Kamu sudah bahagia”

“Kamu sudah tenang dijaga semesta” ujar mereka

Bahagianya tetap ada

Meski berbeda cerita

Bahagianya tetap ada

Meski raganya berbeda alam

“Terima kasih…”

Untuk chandrahaas terakhirmu

Untuk peluk hangat terakhirmu

Dan rekatnya genggaman terakhirmu

Selamat jalan kasih

Kisah kita abadi

Hingga aku tua nanti

Hingga berjumpa lagi

Penulisan puisi Danendra ini sedikit berbeda dari puisi sebelumnya yaitu Darani Diraya; puisi ini merupakan “salah dua” dari banyaknya puisi penulis buat dan yang memberanikan diri untuk tampil di khalayak umum agar dapat dinikmati oleh banyak orang.

Puisi ini dibuat pada tanggal 14 Oktober 2020 untuk memperingati hari ulang tahun seorang anak sekaligus seorang adik yang pernah hadir di suatu keluarga yang penulis kenal. Danendra merupakan nama dari orang yang diceritakan pada bait puisi ini.

Puisi ini menceritakan tentang bagaimana semua itu berawal hingga bagaimana semua itu berakhir. Namun, puisi ini ditulis bukan dengan rasa sedih ataupun dengki terhadap Sang Pencipta, melainkan dengan rasa rindu serta hati yang ikhlas menerima segala sesuatu yang menjadi bagian dari cerita hidup mereka.

Penulis berharap tulisan puisi ini tidak menjadikan pembaca merasa sedih ataupun ngeri setelah membaca penjelasan ini. Penulis berharap rasa ikhlas yang dilatih oleh keluarga kecil ini dapat dirasakan oleh masyarakat luas; karna kehilangan akibat kematian merupakan salah satu fase yang akan dialami oleh siapapun meski awalnya terasa tidak mudah namun pada akhirnya manusia memang harus berkawan karib dengan dia yang nama “ikhlas”.

Pada bait ke lima, terdapat kata chandrahaas yang penulis ambil dari bahasa sansekerta yang artinya senyum seperti bulan; yang menginterpretasikan senyum (indah) terakhir yang diberikan oleh Danendra kepada keluarga sebelum pergi jauh dari mereka.

Tulisan ini ingin mengingatkan kepada siapapun bahwa akhirnya semua yang datang akan pergi; yang bertemu akan selalu berpisah; cepat atau lambat; dan entah dengan cara seperti apa semesta mengambilnya, bahkan lewat kematian sekalipun. Meski pada awalnya tidak mudah berteman dengan “ikhlas”, namun penulis percaya bahwa pada akhirnya setiap orang mampu mengikhlaskan.

Turut berdukacita penulis ucapkan kepada siapapun yang pernah ataupun sedang merasakan kehilangan, percayalah bahwa semua akan berangsur membaik, terutama hatimu. Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui, bukan juga untuk memaksakan, biarkan semuanya berjalan seperti air dan biarkan waktu juga keikhlasan hatimu memulihkan semuanya.

Pengarang: Catherine Lawinata

Penyunting: Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Part of Artiseni. Sangat tertarik pada bidang jurnalistik, penyiaran, hiburan, fotografi, dan musik kpop.

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X