Artiseni

Fadly: Dia dan Alam Berbicara Melalui Puisi

Pada tanggal 10 November 2020, Artiseni Production berhasil membuat sebuah perhelatan menawan dengan tajuk “MANTRA”sebuah kepanjangan dari MAlam Nonton sasTRA.

Acara yang diselenggarakan di Mall Lippo Plazza Jogja ini menampilkan seniman dan penampil-penampil luar biasa. Di antaranyaseperti Memerah, Ajie Batara & Archangela Girlani, Kemarin siang, Orenjurozu, 3Senja, Fadly dan terakhir Teater Eska. Tidak hanya itu, di sela-sela pertunjukan sekaligus dilakukan penggalangan dana guna membantu para petani dan peternak ikan di Yogyakarta.

Fadly dalam pementasannya/Foto:kanal Youtube Artiseni Production

Saya berkesempatan melakukan wawancara dengan Fadly, salah satu performance yang tampil di acara MANTRA. Beliau menampilkan semacam teater dengan iringan puisi yang tentunya apik. Topik yang diangkat merupakan problematika plastik yang hingga kini masih menjadi salah satu masalah terbesar manusia. Berikut hasil wawancara saya dengan Fadly yang kami lakukan melalui pesan elektronik.

Pertama mungkin enaknya perkenalan singkat dulu ya mas, kaya kegiatannya sekarang lagi sibuk apa aja ?

Mas Fadly: Oh, iya nama saya Muhamad Fadly, Kuliah di UNY, jurusan Sastra Indonesia, sekarang lagi sibuk menyelesaikan skripsi dan merintis komunitas mendongeng bersama Komunitas Utusan Negeri Dongeng.

Berarti sekarang Mas Fadly sedang berdomisili di Jogja?

Mas Fadly: Iyaa

Saya penasaran sama penampilan mas yang kemarin. Disebut apa sih pertunjukan yang ditampilkan Mas Fadly? Apakah teater, monolog, atau pembacaan puisi diiringi gerakan atau disebut apa, mas?

Mas Fadly: Sebenernya untuk jenis pertunjunkan mungkin ke teatrikal puisi. Tapi untuk aku pribadi tidak memetakan pertunjukan ini termasuk apa, yang penting bagi aku apapun itu tetap tak sebut pertunjukan teater hehe aku juga gak terlalu paham dramaturgi.

Terus kemarin Mas Fadly kan memperagakan masuk ke plastik hitam dan mengurung di dalam plastik, itu maknanya apa sebenernya mas? Bahkan, naskah puisinya itu dibakar di depan panggung. Itu tujuannya apa yang ingin Mas Fadly sampaikan ?

Foto rekan Fadly sedang membakar naskah dalam proses pementasannya/Foto:kanal Youtube Artiseni Production

Mas Fadly: Kemarin dimulai dengan mengeksplor plastik trashbag itu. Jadi kenapa aku menggunakan tubuhku untuk masuk ke dalam, di dunia ini di kehidupan sehari hari kita kan dekat dengan plastik apapun itu mulai dari di laut, di darat atau di manapun itu selalu ada plastik, itu seperti menyatu dengan diri kita. Dan kenapa aku memilih aku memasukan tubuhku dalam plastik, seperti kehidupanku ini tubuhku sudah dikelilingi oleh plastik. Aku hidup disekitar palstik penggunaannya plastik. Dan kenapa pas di ending itu dibakar dan aku membakar lilin dan masuk kedalam plastik. Jadi yang aku tegaskan sama temanku itu soal puisi. Mana yang lebih abadi puisi atau plastik? Nah disitu membandingkan puisi dibakar puisi itu tidak abadi dan bisa hilang bisa lenyap. Sedangkan plastik ketika aku masukan api, anggaplah api adalah zaman dan ketika lilinnya masuk ke dalam tubuhku malah apinya yang mati. Makanya aku bilang mana yang lebih abadi, puisi atau plastik ?

Tapi kenapa plastik yang diangkat oleh Mas Fadly? Apakah alasan khusus?

Mas Fadly: Kalau alasan khusus sih gak ada, hanya aku sendiri orangnya senang menantang diri sendiri. Awalnya konsep pertunjukanku membahas tumbuhan, tetapi ganti sejam sebelum pertunjukan hehe. Kalau temen-temenku udah paham, aku senang nantang diri sendiri. Pernah juga 5 menit sebelum pentas hehe.

Tapi mas, sekarang yang lagi rame di medsos atau yang sedang santer dibahas kan kaya persoalan hutan Papua yang dibakar untuk lahan sawit atau persoalan sengketa hutan adat. Sempat kepikiran gak untuk ngebahas itu? Dan bagi Mas Fadly haruskah untuk mengangkat isu atau topik yang up to date untuk dipentaskan?

Mas Fadly: Iya bener awal niat pentasku soal tumbuhan, pohon dan lain-lain yang dibakar demi kepentingan gitu karena emang lagi dekat dengan kita, tetapi konsep di kepalaku kurang matang dan wawasanku juga kurang, soalnya aku sendiri gak mau buat pentas kalau aku gak matang memahami gitu. Soalnya kan karya harus dipertanggung jawabkan. Dan menurut aku sih harus ngangkat isu terdekat, soalnya bagiku kesenian harus peka terhadap kejadian sekitar dan salah satu ruang penyampaian kritik atau apapun lewat kesenian.

Lanjut, menurut mas Fadly seorang sastrawan atau penyair atau seniman perlukah mereka untuk turut andil dalam isu-isu seperti lingkungan ini ? Apakah perlu untuk terjun langsung dalam gerakan misalnya dan tidak melalui karya saja ?

Mas Fadly: Kalau bagiku itu pilihan sih, soalnya ada yang memang memilih untuk menikmati kesenian aja tanpa membahas isu-isu. Perlu tidaknya terjun sam-sama pilihan bagiku karena ada yang berprinsip kesenian untuk kesenian, ada juga kesenian untuk rakyat.

Balik lagi ke persoalan plastik mas. Dengan seabrek ajakan persuasi atau sosialisasi dan gerakan-gerakan mengatasi plastik ini sampai sekarang nyatanya plastik masih menjadi hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Apakah Mas Fadly tidak akan lelah dan merasa sia-sia jika mengangkat atau menyuarakan isu tersebut ?

Mas Fadly: Kalau aku sendiri sih gak lelah, aku sendiri nikmati itu karena aku membuat pertunjukan sesuai keresahanku dan keinginanku dan gak merasa terbebani. Orang menanggapi atau gak juga tetap pilihan masing-masing gitu.

Pertanyaan terakhir, apa kesan dan harapan yang ingin disampaikan dari acara MANTRAkemarin ?

Mas Fadly: Acara MANTRA kemarin ini bisa menjadi stimulus awal kelompok kesenian-kesenian di Jogja untuk kembali berani berkesenian secara live gitu. Untuk aku sendiri acara MANTRA ini menjadi awal kembali aku mulai berkesenian setelah hampIr setahun gak pentas-pentas lagi. Kalau harapan, mungkin teman-teman yang aktif di kesenian bisa diajak untuk ikut andil dalam kegiatan sosial yang dilakukan teman-teman Artiseni mungkin gitu.

Melalui acara MANTRA ini nantinya hasil donasi yang terkumpulkan akan diberikan ke kelompok tani dan perikanan yang ada.

Anda juga bisa menyaksikan acara MANTRA pada kanal Youtube Artiseni Production di link berikut apabila kemarin belum sempat untuk menonton secara langsung.

Penulis: Iqbal R

Penyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X