Artiseni

DUA PASANG MATA

Karya Pulung L A

“ Tubuhku sudah mulai mengkeriput dan tenagaku perlahan-lahan digerogoti waktu yang semakin cepat bergulir melindas semua kehidupan yang pernah aku lewati.                                    

  “ Tujuh puluh dua tahun sudah usiaku genap seminggu lagi. “ Telah banyak yang aku lewati dan aku jalani, suka duka, pahit manis dan penderitaan juga kesenangan hidup tetapi sampai saat ini aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang sempurna. “ Apa yang aku kerjakan selama hidup hanya berputar-putar pada arah yang sama, hanya menampilkan satu sosok yang penuh tipu daya dan pengingkaran. Kursi goyang diayunkannya. Matanya yang bening menatap lurus pada batu-batu. Desahan nafas terdengar perlahan. Ia ingat sesuatu dalam benaknya. “ Ini semua karena kamu Marni.                      

 “ Iya cintaku yang kamu tolak karena alasan yang sampai saat ini tak pernah aku mengerti.”  Kenapa kita begitu dekat tetapi aku tak mampu meraihnya dan kamu bergeser pada laki-laki lain. Mendesah.

“ Semua telah aku putuskan sejak hari itu aku tidak akan menikah dan apa yang aku inginkan harus berada dalam gengamanku. “ Kekuasaan. Tersenyum dan mengangguk – angguk seolah – olah merasakan sebuah kemenangan

Bayangan wajah Marni begitu kuat tergambar dalam benaknya, sebuah senyuman yang tersungging di wajahnya menampakkan kepolosan dan matanya yang bulat hitam dengan bulu mata yang lentik begitu indah dan ia selalu ingat matanya berbinar bagaikan bintang rinjani dikegelapan malam. Mata itulah yang mampu menenggelamkan hatinya dalam perasaan cinta yang menggebu- gebu. Semua orang pasti akan ingat matanya yang menyorot tajam dan teduh  mendamaikan hati yang kalut. Sepasang mata yang menyimpan berjuta keindahan di dalamnya dan Marnilah pemiliknya. Kenangan itu begitu kuat mencengkram benaknya dan ia terseret dalam arus itu. Dedauan pepohonan yang bergemerisik tertiup angin bagaikan musik pengiring menghantarkannya dalam dunia kenangan yang indah.

Di atas kursi rodanya ia menatap kosong pelataran rumah. Kenangan telah menyeretnya terlalu jauh. Kenangan pada Marni mengantarkannya pada sebuah luka nyeri yang menyayat. Dalam benaknya terekam jelas bagaimana Marni meninggalkannya. Dadanya menjadi sesak menahan emosi yang berdentang di bilik hatinya. Ia memegangi dadanya dengan tangan kanan. Ia mengerang merasakan sakit yang amat sangat. Tangan kanannya mengapai – gapai meja tetapi ia tak dapat memegangnya tubuhnya bergetar semakin hebat. Matanya nanar dan kunang – kunang berkerlap – kerlip di depan matanya lalu gelap menyelimuti pandangan matanya. Dia terjatuh di lantai. Mulutnya meracau tidak jelas kemudian pingsan.

Ruangan putih dengan dua ranjang bersekat kain putih mbah Haryo Sumirjo. Tergeletak dengan kantung infuse bergelantungan di samping ranjangnya. Hidung dan mulutnya terbungkam oksigen. Mulutnya sedikit menganga dan wajahnya Nampak begitu lelah. Sudah satu minggu ia tertidur sejak pertama kali masuk ke rumah sakit. Ia sendiri tanpa ada orang yang menjaganya. Di sebelahnya Nampak nenek – nenek sedang bercanda dengan cucunya yang datang menjenguknya bersama Bambang anak lelakinya. Tampak senyuman bahagia saat bercanda dengan cucu perempuannya. Ia ingat dirinya sewaktu masih seusia cucunya. Bertanya apa saja yang tidak ia ketahui dan berlari – larian sambil tertawa lepas. Senyum kebahagiaan berpendar dari wajahnya yang sudah mengkeriput.

Dokumentasi pementasan LUH : editor by Budy MK

Nenek menyuapkan roti keju kemulut gadis kecil itu. Si  gadis tersenyum. Pintu kamar di buka. Bambang masuk kedalam kemudian duduk di kursi dekat ranjang. Bebicara sebentar kemudian pamit. Nenek tampak Sedih saat mereka berpamitan. Di peluk dan di ciuminya cucunya seakan – akan enggan melepaskannya.

Mereka berdua keluar dari ruangan. Suasana kembali senyap hanya semilir angin yang berhembus dan hanya sesekali terdengar Suara ranjang dorong mungkin pasien lain atau langkah kaki petugas rumah sakit yang lalu lalang. Ia menatap jam dinding yang menempel di atas tembok ruangan itu. Jarum panjang menunjukkan angka dua belas dan jarum kecil menunjukkan angka enam.

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X