Artiseni

Eak-eak Reak Sumedang, Dari Ketakutan Bocah Hingga Digemari Masyarakat

Jika Jawa Timur punya Reog Ponorogo, maka Sumedang, Jawa Barat punya kesenian tradisional bernama Reak. Mulai muncul sejak abad 12, kesenian Reak menyebar dari Sumedang hingga kabupaten lain di Tanah Sunda.

Pertunjukan Reak oleh Gumelar Putra Pasundan pada Parade Milangkala Kota Sumedang ke 440 tahun 2018/Sumber:Erwina

Seni Reak secara harafiah berasal dari Bahasa Sunda “eak-eakan”. Eak-eakan berarti ungkapan kegembiraan yang dilontarkan dengan bersuara (berteriak) secara serentak dan seragam. Harmonisasi antara suara manusia dan alat musik dalam Reak dipercaya menghasilkan hal magis.

Pertunjukkan Reak menggabungkan seni tradisional, seni reog, angklung, kendang pencak, seni tari, dan seni topeng. Kesenian ini biasa dimainkan orang-orang tua atau seniman dewasa. Namun, saat ini tak jarang juga anak-anak ikut andil berperan sebagai sinden dan penari.

Menurut sejarah, Reak lahir di zaman pemerintahan Prabu Kiansantang, putera Prabu Siliwangi. Di masa itu, Agama Islam tengah menyebar di Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat. Salah satu perintah Agama Islam adalah sunat bagi anak laki-laki. Tentu banyak anak yang takut. Sesepuh di Sumedang pun memikirkan cara menghibur anak laki-laki agar tidak takut sunat, caranya lewat seni Reak. Kesenian ini pun menyebar dari Rancakalong, Sumedang ke daerah lain di Jawa Barat berkat para pedagang pada tahun 1958.

Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Part of Artiseni. Sangat tertarik pada bidang jurnalistik, penyiaran, hiburan, fotografi, dan musik kpop.

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X