Artiseni
Cloud Hosting

Eksistensi Budaya Semarangan di Era Milenial

Oleh: Chrisan Tiyansa

Bapak Bintang Hanggoro/Instagram kejarmimpi_semarang

Era milenial yang lekat dengan era modern menunjukkan kurangnya pengetahuan generasi muda tentang keberadaan kebudayaan atau latar belakang kebudayaan di suatu daerah. Fenomena seperti ini mungkin juga terjadi di Kota Semarang.

Berdasarkan pemikiran tersebut, untuk memberikan informasi dan pengetahuan kepada generasi milenial, suatu komunitas di Kota Semarang yang bernama Komunitas Kejar Mimpi pada tanggal 5 Agustus 2020 membuat talk show. Acara ini mengundang Bapak Bintang Hanggoro sebagai narasumber. Beliau adalah pencipta tari tradisi Semarangan salah satunya yaitu Tari Denok.

Kota Semarang adalah kota multikultur yang budayanya dibentuk dari empat budaya yaitu budaya Jawa (Jawa Pesisiran), Arab, Cina dan Eropa. Adanya ke empat budaya yang membentuk budaya Kota Semarang, kesenian Kota Semarang kemudian mengandung banyak keunikan seperti Gambang Semarang, Tari Gaya Semarangan, Batik Semarangan, Warak Ngendog dan lain-lain.

Hasil-hasil kesenian Kota Semarang di atas merupakan hasil asimilasi dari empat budaya yang sudah merupakan kesatuan; yang menunjukkan identitas atau khas Kota Semarang sendiri.

Awalnya yang ada di Kota Semarang adalah kesenian Gambang Semarang. Berbekal kesenian Gambang Semarang, Bapak Bintang Hanggoro mempelajari dan menciptakan sebuah tarian yang bernama Tari Denok bersamaan dengan terciptanya Tari Semarangan atau yang sering disebut Tari Gado-gado karena menggunakan iringan lagu Gado-gado. Dari kedua tarian tersebut, kemudian banyak tarian yang muncul yang menggunakan pola khas Semarangan. Tari Denok Deblong, Tari Geol Denok, Tari Semarang Warak dan banyak lagi merupakan bukti perkembangan tari Gaya Semarangan di era milenial.

Dalam pemikiran umum, adanya era modern atau budaya Barat akan mempengaruhi budaya Timur, namun menurut Bapak Bintag Hanggoro budaya-budaya pasti ada penggemarnya sendiri sehingga tidak perlu merisaukan pertentangan budaya Barat dan Timur. Budaya-budaya tidak bisa berdiri sendiri namun mengandung akulturasi, asimilasi sehingga diharapkan bisa berkolaborasi, apabila tidak merusak, mempengaruhi namun mendukung dan lebih baik tidak ada salahnya.

Di Era milenial menurut Bapak Bintang Hanggoro, sebenarnya respon pemuda pada kesenian khususnya tari sangat baik, dibuktikan banyaknya karya tari yang menggunakan Gaya Semarangan, namun hal ini kurang maksimal karena kurangnya publikasi.Tugas sebagai pegiat seni adalah turut mengembangkan kesenian yang merupakan identitas budaya, serta perlu dukungan masyarakat dan pemerintah dalam publikasi sehingga lebih maksimal dalam menyebarluaskan. Dengan dukungan publikasi yang baik, pasti kesenian yang merupakan identitas budaya akan lebih terkespos dan dikenal serta dapat dilestarikan

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, Maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X