Artiseni
Cloud Hosting Indonesia

Gerbong

Karya : Pulung LA

Beberapa orang duduk di pinggir rel. Jari – jari yang hitam dan terlihat kotor mengais – ais tanah hingga nampak guratan yang tak menentu pada tanah. Pikirannya sedang bingung dan mencoba membebaskan segala pikirannya dari kebuntuan. Kereta api lewat dengan suara mengerus hati. Puluhan gerbong bergerak diiringi suara deritan roda – roda besi yang menggilas rel. Pikiran masih tak menentu ia layangkan pandangannya menatap orang – orang di stasiun yang hendak bergegas pergi sesuai dengan tujuan masing – masing. Ia berkata sendiri dalam hatinya.

“ Kenapa aku masih disini mencari sesuatu yang tak pasti atau aku tidak berani keluar dari kota ini. Dihembuskan nafas yang menyesaki dadanya dan kembali melamun dengan pikiran yang entah pergi kemana.

Menara pemantau tua bekas bangunan yang dipergunakan belanda untuk mengawasi setiap kereta pengangkut rempah – rempah atau para  pekerja paksa yang akan dikirimkan ke kota lain dengan pengawalan ketat tentara belanda. Sebuah sisi sejarah yang kelam masih berdiri walaupun renta. Menara sudah tak terawat ditumbuhi ilalang setinggi orang dan hampir menutupi pintu. Orang – orang masih melamun dan tak jelas apa yang dilamunkannya sesekali ia tergugah dan kembali kepada kenyataan kemudian tenggelam lagi dalam lautan diri mencari – cari sebuah sebab dari kehidupannya yang tak beruntung. Tiga orang gelandangan duduk beralas koran yang juga terdiam. Semua orang yang ada di situ terdiam melamunkan sesuatu yang kabur tentang masa depan mereka sendiri. Aura mendung bahkan gelap seperti menyelimuti kepala mereka.

Seorang anak kecil bermain dengan dirinya sendiri. Berguling – gulingan ditanah dan tertawa sendiri tak peduli orang akan melihatnya sementara bapaknya membaca Koran bekas dengan serius dan tak peduli dengan tingkah anak perempuannya. Anak itu terus bermain. Ia ambil kertas merobeknya, mengais – ais tanah dan melemparnya hingga debu beterbangan dan tetap tak ada peringatan dari ayahnya. Anak itu mengumpulkan sendiri aturannya, mengais aturan dari jalanan atau tempat sampah, menimang – nimang dan memungutnya untuk menjadi miliknya sendiri. Anak yang akan tumbuh liar bersama aturannya sendiri yang tak peduli dengan orang lain kecuali kesenangannya sendiri. Bapaknya selesai membaca Koran dan meraih tubuh anaknya kemudian memeluknya dengan erat. Anaknya tertawa kegelian. Sekali lagi si anak belajar tentang rasa senang dari sebuah pelukan laki – laki yang mungkin akan digunakannya saat ia membutuhkan sesuatu.

Satu orang pelamun berdiri membuka bungkusan rokoknya dan menyulut sebatang rokok kemudian ia jongkok lagi sambil menghembuskan asap rokok bersama penderitaannya yang dalam.

Anto sudah berada lima tahun di tempat ini dan hidup bersama puluhan orang lain yang lari dari kenyataaan hidupnya berkelahi dengan waktu yang semakin kejam menghimpit. Semua orang yang berada disitu dalam persoalan yang rumit dan menjerat mereka dalam degradasi kemanusiaan yang menjijikkan. Orang – orang yang berada disitu adalah manusia nomor dua yang tidak mempunyai status yang jelas, pekerjaan yang tidak jelas bahkan hidupun tidak jelas. “To… Anto… Seseorang memangil pelamun yang berada didekat rel kereta api. Ia menengok kearah suara pemanggilnya.

“ Si ipah kemana seharian kok nggak kelihatan. Orang itu mendekat.

“ Aku tidak tahu Jan. “Aku cari dari gerbong ke gerbong ia tidak kelihatan batang hidungnya. Mungkin baru njaring diperempatan sana. Sebuah ungkapan khas kaum miskin untuk menyebut pekerjaan mengemis dengan kata njaring.

“ Aku barusan lewat perempatan dan nggak ketemu sama dia. “Cuma ada yu Sarmi sama anak – anaknya. Anto menggeleng dan kembali jongkok meneruskan lamunannya.

Janto berbalik hendak pergi tetapi ia melihat Pak Sombro sedang membaca Koran dan anaknya bermain tanah disampingnya. Janto mendekatinya.

“ Pak… Panggilnya. Berbalik menatap wajah Janto.

 “ E.. Janto… Ada apa Jan?

“Apa bapak tahu dimana si ipah?

“ O… Ipah… Tadi aku melihatnya di rel sebelah sana sedang bercanda dengan seorang bapak – bapak. Arah tangannya menunjukkan kearah barat dimana rel kereta membujur ke timur dan barat.

“ Ada apa sih Jan sebenarnya.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X