Artiseni

“Gerbong”

Karya : Pulung LA

Beberapa orang duduk di pinggir rel. Jari – jari yang hitam dan terlihat kotor mengais – ais tanah hingga nampak guratan yang tak menentu pada tanah. Pikirannya sedang bingung dan mencoba membebaskan segala pikirannya dari kebuntuan. Kereta api lewat dengan suara mengerus hati. Puluhan gerbong bergerak diiringi suara deritan roda – roda besi yang menggilas rel. Pikiran masih tak menentu ia layangkan pandangannya menatap orang – orang di stasiun yang hendak bergegas pergi sesuai dengan tujuan masing – masing. Ia berkata sendiri dalam hatinya.

“ Kenapa aku masih disini mencari sesuatu yang tak pasti atau aku tidak berani keluar dari kota ini. Dihembuskan nafas yang menyesaki dadanya dan kembali melamun dengan pikiran yang entah pergi kemana.

Menara pemantau tua bekas bangunan yang dipergunakan belanda untuk mengawasi setiap kereta pengangkut rempah – rempah atau para  pekerja paksa yang akan dikirimkan ke kota lain dengan pengawalan ketat tentara belanda. Sebuah sisi sejarah yang kelam masih berdiri walaupun renta. Menara sudah tak terawat ditumbuhi ilalang setinggi orang dan hampir menutupi pintu. Orang – orang masih melamun dan tak jelas apa yang dilamunkannya sesekali ia tergugah dan kembali kepada kenyataan kemudian tenggelam lagi dalam lautan diri mencari – cari sebuah sebab dari kehidupannya yang tak beruntung. Tiga orang gelandangan duduk beralas koran yang juga terdiam. Semua orang yang ada di situ terdiam melamunkan sesuatu yang kabur tentang masa depan mereka sendiri. Aura mendung bahkan gelap seperti menyelimuti kepala mereka.

            Seorang anak kecil bermain dengan dirinya sendiri. Berguling – gulingan ditanah dan tertawa sendiri tak peduli orang akan melihatnya sementara bapaknya membaca Koran bekas dengan serius dan tak peduli dengan tingkah anak perempuannya. Anak itu terus bermain. Ia ambil kertas merobeknya, mengais – ais tanah dan melemparnya hingga debu beterbangan dan tetap tak ada peringatan dari ayahnya. Anak itu mengumpulkan sendiri aturannya, mengais aturan dari jalanan atau tempat sampah, menimang – nimang dan memungutnya untuk menjadi miliknya sendiri. Anak yang akan tumbuh liar bersama aturannya sendiri yang tak peduli dengan orang lain kecuali kesenangannya sendiri. Bapaknya selesai membaca Koran dan meraih tubuh anaknya kemudian memeluknya dengan erat. Anaknya tertawa kegelian. Sekali lagi si anak belajar tentang rasa senang dari sebuah pelukan laki – laki yang mungkin akan digunakannya saat ia membutuhkan sesuatu.

Satu orang pelamun berdiri membuka bungkusan rokoknya dan menyulut sebatang rokok kemudian ia jongkok lagi sambil menghembuskan asap rokok bersama penderitaannya yang dalam.

Anto sudah berada lima tahun di tempat ini dan hidup bersama puluhan orang lain yang lari dari kenyataaan hidupnya berkelahi dengan waktu yang semakin kejam menghimpit. Semua orang yang berada disitu dalam persoalan yang rumit dan menjerat mereka dalam degradasi kemanusiaan yang menjijikkan. Orang – orang yang berada disitu adalah manusia nomor dua yang tidak mempunyai status yang jelas, pekerjaan yang tidak jelas bahkan hidupun tidak jelas. “To… Anto… Seseorang memangil pelamun yang berada didekat rel kereta api. Ia menengok kearah suara pemanggilnya.

“ Si ipah kemana seharian kok nggak kelihatan. Orang itu mendekat.

“ Aku tidak tahu Jan. “Aku cari dari gerbong ke gerbong ia tidak kelihatan batang hidungnya. Mungkin baru njaring diperempatan sana. Sebuah ungkapan khas kaum miskin untuk menyebut pekerjaan mengemis dengan kata njaring.

“ Aku barusan lewat perempatan dan nggak ketemu sama dia. “Cuma ada yu Sarmi sama anak – anaknya. Anto menggeleng dan kembali jongkok meneruskan lamunannya.

Janto berbalik hendak pergi tetapi ia melihat Pak Sombro sedang membaca Koran dan anaknya bermain tanah disampingnya. Janto mendekatinya.

“ Pak… Panggilnya. Berbalik menatap wajah Janto.

 “ E.. Janto… Ada apa Jan?

“Apa bapak tahu dimana si ipah?

“ O… Ipah… Tadi aku melihatnya di rel sebelah sana sedang bercanda dengan seorang bapak – bapak. Arah tangannya menunjukkan kearah barat dimana rel kereta membujur ke timur dan barat.

“ Ada apa sih Jan sebenarnya.

“Ah… Nggak ada apa – apa kok pak? Jawabnya malu – malu. Pak Sombro tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.

“ Pasti lagi marahan sama si Ipah. Wajah Janto bersemu merah daripada akan jadi lebih malu Janto pamit untuk mencari Si Ipah. Janto pergi menyusuri rel untuk mencari ipah Kearah yang  yang dikatakan Bapak tadi.

Janto menyusuri jalan disamping rel kereta. Ia ingin segera bertemu dengan Ipah. Ia takut kalau perempuan itu melakukan tindakan yang bodoh. Ia merasa bersalah setelah menampar dan memukulnya. Ia marah karena ia tahu Ipah kembali lagi bekerja sebagai pelacur. Ia tidak menginginkan perempuan itu bekerja lagi sebagai pelacur dengan alasan apapun tetapi setelah ia merenungi sendiri iapun ternyata belum bisa membawa Ipah pada arah kehidupan yang lebih baik dan dirinya juga masih saja menjadi pencopet. Suara berderak roda – roda besi melindas rel bergerak dengan cepat. Janto berjalan menepi. Kereta melewatinya membawa angin dan debu beterbangan. Saat kereta itu lewat disampingnya pikiran buruk berputar dikepalanya.

“ Jangan – jangan Ipah akan bunuh diri. Hatinya berdebar – debar takut dengan apa yang ia pikirkan barusan. Ia berjalan kaki semakin cepat. Tapak sepatunya membekas pada tanah yang dipijaknya. Tapak sepatu yang jelas dan sedikit dalam melesak ketanah menunjukkan kegusaran hatinya.

Deretan rumah – rumah gubuk yang terbuat dari triplek ataupun terpal dan kain bekas spanduk iklan terlihat didepan mata Janto. Dalam salah satu gubuk beberapa orang tampak bercanda didepan rumah itu dan anak – anak berlarian tak menentu. Margo melihat kehadiran Janto. Itu kerbaumu datang menjemput. Ipah yang sedang berbicara dengan Goprak membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Ketika ia melihat sosok itu ia mendengus.

“ Sial kenapa dia kemari bikin nggak nyaman saja.

“ Iya namanya cinta mau kemana lagi kalau nggak mencari orang yang dicintainya. Goprak meledek sambil tertawa keras.

“ Duduk – duduk sini dulu Jan sambil ngobrol – ngobrol. Margo menyapa dengan basa – basinya. Janto duduk melepas topinya.

“ Uh… siang ini panas sekali bikin pusing kepala.

“Yang pusing itu bukan karena panas tetapi karena nggak punya uang. Goprak membuka dengan candaan dan semua orang yang ada ditempat itu tertawa terbahak – bahak. Janto merengut ia melirik Ipah yang duduk disebelah Goprak. Ipah diam saja sengaja tidak menampakkan ekspresi terhadap Janto.

Ipah hendak ngeloyor pergi karena situasi ditempat itu sudah tidak membuatnya nyaman. Baru beberapa langkah ia berjalan tetapi tangan kirinya seperti ada yang menariknya. Ia berhenti dan melihat Janto memegangi tangannya. Ia menariknya kuat tetapi tangan Janto memegang dengan kuat.

“ Sudah lepaskan tanganku. Teriaknya dengan jengkel. Margo dan Goprak cekikikan sambil menutup mulutnya agar tak terdengar oleh dua orang itu. Ipah kembali menarik tangannya tetap saja ia tak mampu melepas pegangan erat tangan Janto.

“ Lepaskan… Dasar Copet. Janto semakin kuat dan menarik Ipah untuk berjalan bersamanya. Margo dan Goprak tertawa terbahak – bahak melihat mereka berjalan saling tarik – menarik seperti dua anak kecil yang merebutkan mainan.

“Pah maaf ya aku memang tolol berbuat seperti itu sama kamu. Ipah masih diam saja tak menggubris  omongan janto.

“ Benar  pah aku minta maaf, kamu jangan marah seperti itu sama aku. Melongokkan wajahnya dari balik punggung ipah untuk melihat apakah perempuan itu masih marah padanya. Ipah masih merengut dan tak bicara dan saat wajah Janto menjenguk terlihat di dekat wajahnya ia terseyum geli melihat kelakuan laki – laki itu.

“ Iya sudah kalau kamu marah sama aku dan aku akan pergi saja dari sini. Aku akan pindah dari tempat ini. Janto mengatakannya seolah – olah ia benar – benar akan pergi. Ipah berbalik ingin mencegah laki – laki itu pergi saat ia berbalik ternyata laki – laki itu masih berdiri dibelakangnya. Ia tersipu malu dan marah karena dibohongi dan janto tersenyum sambil memeluknya. Ipah mencubiti perut janto. Mereka berdua kembali akrab.

Mereka berdua menyusuri jalan berdebu disamping rel kereta.

“ Kamu lapar. Tanya Janto. Ipah mengangguk. Kita makan di warung bu Haryati.

“ Apa kamu punya uang. Ipah bertanya sambil menatap wajah Janto.

“Apa sih yang nggak Janto punya. Berlagak dengan candaannya. Sombong. Sambil tersenyum. Ipah tahu kalau Janto mengajaknya makan berarti ia memang sedang ada uang walaupun ia juga tahu kalau uang itu hasil dari mencopet.

“ Aku tadi dapat uang banyak dari dompet seorang bapak – bapak kaya yang baru saja turun dari mobilnya.

“ Berapa yang kamu dapatkan.

“ Lumayan untuk mengajakmu makan dan tidur nanti malam.

“ Brengsek kamu Jan. Ipah mencubiti perut Janto . Janto tertawa kesakitan.

“ Maaf ya Pah bukan maksudku menyakiti perasaanmu  dengan apa yang aku katakan barusan. Ipah pura – pura cemberut dan marah janto merangkulnya semakin erat dan ia yakin Ipah tidak marah karena tubuhnya bergelayut manja dipundaknya. Ia tersenyum.

Langit mulai memerah dan cahaya matahari perlahan – lahan beringsut tenggelam di ufuk barat. Ipah sedang berbedak di dalam Gerbong kereta yang dibuat menjadi semacam kamar untuk ia tinggal dan mencari uang. Wajahnya terpampang pada cermin dalam bedak itu. Sapuan spon bedak dikulit wajahnya memutihkan wajahnya tetapi ia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Ia berhenti dan menatap kulit dibawah matanya. Kulit itu mulai berkerut walaupun ia telah memolesnya dengan bedak yang tebal.

“ Apakah aku sudah setua ini. Bicara pada dirinya sendiri.

“ Usiaku baru tiga puluh lima tahun dan wajahku mulai berkeriput. Ketakutan mulai merayap dalam jiwanya dan menyusuri relung – relung hatinya yang berkarat dengan masa lalu yang semakin kusam dan gelap. Ia lelah memainkan peran ini tetapi ia tak mampu berbuat apa – apa selain menerima kenyataan pahit itu.

Suara ketukan di pintu gerbong menyadarkan lamunannya.

“ Iya sebentar. Teriaknya dari dalam gerbong. Ia buka pintu gerbong itu dan melihat seorang laki – laki tua berdiri sambil mendekapkan tangan didadanya.

“ Ipah…  “ Aku pingin main sama kamu. Mengatakan dengan setengah berharap. “Memangnya bapak punya uang? Ia bertanya dengan ketus karena ia tahu pak Barno selalu tidak punya uang karena terlalu tua untuk bekerja sebagai pemulung.

“ Satu kali main berapa?  Memasukkan tangannya dikantong saku celananya.

“ Dua puluh ribu.  Pak Barno mengeluarkan uang dua lembar lima puluhan. Ipah memperhatikan uang itu.

“ Masuk! Ipah memerintahkan pak Barno untuk naik masuk kegerbongnya. Berpuluh – puluh kali sudah dan beratus atau bahkan ribuan laki – laki menindih dan melesakkan benda tumpul keselangkangannya hingga dia sudah tidak bisa merasakan nikmatnya berhubungan badan.

Ia masih terkapar sendirian dalam ranjangnya yang remang terpancar dari cahaya lampu minyak yang terletak disudut.  Matanya menatap atap gerbong. Tubuhnya masih telanjang tertutup selimut. Pikirannya terbang bersama angan –angan kosong menaiki tangga mega – mega kelabu kehidupannya sendiri. Dingin dan sunyi diselingi hujan gerimis dan sesekali kilat menghantarkan guntur membahana. Mungkin sudah sepuluh tahun ia berada ditempat ini dan berkumpul dengan manusia – manusia kecoa dalam lorong – lorong gelap bercampur dengan bau yang menyengat. Ia duduk diatas ranjangnya meraih sebotol anggur ketan hitam dan meneguknya sedikit. Tubuhnya sebentar saja sudah mulai terasa hangat dan ia sandarkan kepalanya pada dinding gerbong. Wajahnya nampak kusam dan lelah menatap kosong ruangan.

     Hujan gerimis masih mengguyur malam. Janto berlari – terengah – engah melompati rel dan terus berlari menuju deretan gerbong – gerbong yang tak lagi dipergunakan. Ia terkejut hampir saja ia terjatuh menabrak Pak Marsam.

“ Maaf pak. Pak Marsam hanya tersenyum melihat janto hampir saja terjatuh. Keributan kecil itu membuat orang – orang di dalam gerbong melongok keluar. Ada apa pak teriak Mbak Jemi dari dalam gerbong.

“ Nggak ada apa – apa Cuma Janto berlari hampir menabrak aku.

“ Ooo… Saya kira petugas trantib.

“ Aman kok Mbak. Janto menambahkan perkataan pak Marsam.

“ Darimana Jan? Tanya pak Marsam.

“ Dari stasiun cari uang. Pak Marsam tersenyum lagi sebab ia tahu apa pekerjaan Janto. “Nggak ke gerbong lima? Mereka menggelar permainan dadu.

“ Nggak pak, baru nggak punya uang. Pak Marsam manggut – manggut dan Janto pamit untuk meneruskan tujuannya. Langkahnya dipercepat dan sesekali menengok kebelakang kalau – kalau ada yang mengikutinya.

Di depan pintu gerbong Ipah ia berhenti sebentar melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia ketuk pintu dan memanggil – manggil namanya. Pah… pah… kamu ada di dalam. Ipah yang mendengar namanya dipanggil beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu gerbong. Ia melihat Janto berdiri kedinginan. Janto tanpa menunggu diperintah segera naik masuk kedalam gerbong. Ipah kembali menutup gerbongnya. Janto membuka jaket dan bajunya kemudian menggantungkannya di samping pintu. Ipah merebahkan lagi tubuhnya ke ranjang. Ia seperti tidak peduli dengan kehadiran kekasihnya. Janto ikut merebahkan tubuhnya di samping Ipah sambil melingkarkan tangan ke pinggang Ipah. Ipah bergeser merenggangkan pelukannya. Janto menariknya lebih kuat untuk merapatkan tubuh Ipah ketubuhnya. Ipah melepaskan pelukan dan duduk di pinggir ranjang. Janto bingung dengan kelakuan kekasihnya itu.

“ Ada apa ini? Janto bertanya sambil menatap punggung Ipah yang terlihat telanjang. “Tidak ada apa – apa. Jawab Ipah datar.

“ Lalu kenapa kamu seperti tidak suka padaku.

“ Bukan… Bukan aku tidak suka padamu tetapi ada sesuatu yang aneh dalam pikiranku. Merapikan rambutnya dengan jari – jari tangannya. Janto mendekat dan duduk di sampingnya. “ Kalau  saya boleh tahu sebenarnya apa yang kamu pikirkan. Janto mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu.

“ Hidup. Jawabnya perlahan.

“ Hidup… “ Apa maksudmu dengan kata itu.

“ Hidupku ini. Menatap kewajah Janto yang juga menatap dengan wajah keheranan.

“ Hidupmu yang berantakan maksudmu. Ipah mengangguk.

“ Hidup yang semakin lama semakin merasa tak berarti bagiku.

“ Kenapa kamu berpikir seperti itu. Janto berdiri mengambil minuman keras dari saku jaketnya, membuka tutupnya lalu menenggaknya langsung kemulutnya. Kehangatan dari alkohol mengaliri tubuhnya membuatnya merasa nyaman. Ia duduk lagi disamping Ipah.

Ipah meraih botol minuman itu dari tangan Janto dan menenggaknya sedikit. Rasa pahit dan panas membuat wajahnya berkerenyit sebentar.

” Hidup kita memang sial teronggok bagaikan setumpuk sampah yang bau dan menjijikkan dan harus dibuang jauh atau dikubur agar tak mengganggu. Ipah meneggak lagi minuman itu. Entahlah. Kata itu seperti untuk menepis kegelisahan dan ketakutan dalam dirinya.

“ Aku tak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku ini. “Aku hanya tak mau semua berakhir menjadi sesuatu yang tak berarti sama sekali dalam sejarah hidupku ini. Janto menenggak lagi minumannya sebelum ia menanggapi pembicaraan Ipah.

“ Dulu sewaktu kecil aku ingin sekali menjadi seorang model. “Aku melihatnya pertama kali dalam sebuah lembar halaman sebuah majalah yang menjadi bungkus nasi makan siangku. Ipah tersenyum sesaat tetapi wajahnya perlahan – lahan mulai menunjukkan kesedihan. “ Dan sekarang aku disini dalam kubangan kotoran kehidupan yang menjijikan. Ia menutupi wajahnya dan menangis. Janto membelai rambut dan punggungnya mencoba untuk meredakan tangisnya.

“ Sudahlah Pah semua pasti akan berlalu dan kamu tidak perlu cemas, aku disini akan selalu setia menemanimu. Ipah melongokkan wajahnya menatap wajah Janto dan mencari apakah benar laki – laki disampingnya ini mampu mengusir kegelisahan dalam hatinya dan memberikan warna baru dalam kehidupannya yang mendatang.

“ Waktu begitu cepat berlalu dan kehidupan memerangkapku dalam lendir dosa. Ipah menenggak lagi minuman keras itu dan matanya mulai memerah karena mabuk.

“ Kehidupan itu seperti sebuah permainan judi kadang menang dan kadang kalah yang menang meringis sedang yang kalah menangis. Sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya. “ Aku memang kalah dalam kehidupan ini, Waktuku yang sangat berharga aku buang dengan sia – sia, sekarang ia menagih padaku atas apa yang sudah aku lakukan. “Aku takut. Memeluk Janto yang segera membelai kepalanya dengan manja.

“ Kita memang manusia terbuang Ipah tetapi jangan sekali – kali kau padamkan api harapan dalam dirimu itu. “ Ada Sesuatu hal yang lebih besar di depan kita dan kita harus siap untuk menghadapinya. Janto terus saja memompakan semangat dalam diri Ipah. Ipah menatapnya dan mengatakan pada Janto.

“  Apa kamu mau menikahiku mas? Pertanyaan itu seperti palu godam yang ditimpakan kejantungnya. Ia terdiam sesaat. Ia belum ingin menikah, ia takut melihat kehidupannya sendiri yang belum juga beres dan ia tidak ingin anak – anaknya yang lahir nanti memiliki nasib yang sama dengan dirinya apalagi melihat banyak anak – anak mengemis di jalan.Tidak… tidak ia tidak mau keturunanya mengalami nasib yang sama.

“ Kenapa? Kamu nggak mau menikah denganku. Ia mendengus. “ Sudah aku duga bahwa laki – laki semuanya sama dan aku juga sadar kalau aku hanya seorang pelacur yang hanya menjadi pemuas nafsu belaka. Ia Ambil botol anggur di meja riasnya dan meneguknya beberapa kali.

“ Bukan… Bukan seperti itu   Ipah. “ Aku sangat mencintaimu tetapi untuk menikah… Diam sesaat. “ A… A… Aku belum siap. Ucapannya terbata karena ia tahu pasti perasaan Ipah terluka tetapi ia benar – benar belum siap untuk menikah.

“ Aku juga tahu kalau setiap laki – laki akan beralasan seperti itu. Janto hanya terdiam.

“ Aku lelah menghadapi semuanya ini sendiri aku butuh seseorang yang mampu membantuku mengarungi kehidupan ini dan aku ingin berubah dan keluar dari  lembah gelap ini. “ Apa kamu belum puas mengalami semuanya?  Berbicara sambil menatap Janto yang menatap ke arah lain. Ipah sudah berada pada titik kebuntuan dalam hidupnya ia menginginkan perubahan tetapi perubahan yang diharapkan tersangkut di langit mendung. Ia tengadahkan kepalanya untuk meredakan ketegangan dikepalanya. Janto masih terdiam memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh Ipah tadi tetapi ia tetap tidak berani untuk memilih. Ia menginginkan Ipah tetapi ia belum mau menikah dengannya. Semua kekeruhan berputar – putar dalam ruangan itu.

Semua hening hanya suara roda – roda kereta yang melintasi jalan besi memekakkan telinga. Tak ada keributan seperti hari – hari biasanya yang selalu banyak orang yang melakukan aktifitas malam, berjudi, mabuk dan beberapa perempuan pelacur yang masih menjajakan diri. Semua tenang seperti tidak terjadi apa – apa tetapi di dalam gerbong seluruh emosi kehidupan bergelora menghentak – hentak keluar dari jiwa – jiwa yang resah berharap menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan – pertanyaan kehidupan. Masih dalam suasana yang hening. Ipah menyalakan rokok dan menghisapnya dengan dalam kemudian ia hembuskan bersama kepulan asap yang putih kekuningan. Janto menenggak tetesan cairan alcohol yang tinggal sekali atau mungkin dua kali tegukan. Sebentar saja Cairan itu tandas dalam mulutnya. Mereka berdua belum berbicara tetapi ada sesuatu yang bergelombang dan berdenyut dalam hati mereka masing – masing.

“ Aku ingin pergi dari tempat ini dan memulai sesuatu yang baru untuk menghapus seluruh kenangan pahit dan hitam ini. Tiba – tiba saja Ipah berbicara memecah kebekuan dalam ruangan itu sembari memainkan asap yang keluar dari mulutnya dengan jari – jari tangannya yang lentik. “ Aku teringat dengan apa yang tertulis dalam Ayat suci. Diam sesaat sambil menatap wajah Janto yang juga sedang menatapnya. Disana diceritakan bahwa ada beberapa orang yang ditidurkan di dalam gua selama beribu – ribu tahun dan akhirnya Tuhan membangunkan mereka. Saat mereka terbangun kemudian keluar dari dalam Gua itu mereka kebingungan. Semuanya telah berubah, rumah – rumah, pakaian  dan uang yang mereka bawa tidak lagi mempunyai nilai. Mereka merasa terasing karena tidak mengerti apa yang terjadi dalam abad – abad saat mereka tertidur. “ Seperti itulah diriku. ” Mahluk dalam gua yang bodoh dan tak pernah mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, aku hanya mampu mengintip kehidupan dari celah – celah sempit tanpa pernah memainkan sebuah peran yang benar – benar berarti. Menghisap lagi rokoknya dan menatap kosong ruangan.

“ Sudahlah Ipah. “ Kita hentikan saja pembicaraan ini, kepalaku mulai terasa pusing. Ia mendekati Ipah dan memeluknya kemudian merebahkan tubuhnya diranjang. Ipah diam saja mungkin karena ia sudah mabuk atau mungkin malas untuk menolak ajakan laki – laki itu. Udara dingin segera saja terusir dari tempat itu. Dalam keremangan cahaya lampu minyak tubuh mereka saling menindih. Janto diatas bergerak – gerak berirama dan Ipah dibawah diam menatap atap gerbong. Pikirannya tidak berada ditempat itu. Ia masih gelisah dan resah, ia tidak merasakan sebuah kenikmatan yang menggelegar saat berhubungan intim dengan kekasihnya  seperti saat – saat dulu mereka bercinta. Pikirannya terlalu keruh dan ia sedang tidak ingin bersenang – senang malam ini. Sebentar saja Janto sudah selesai menuntaskan hajatnya ia berbaring di dekat Ipah sambil tetap memeluknya. Ipah membalikkan tubuh hingga bertatapan dengan Wajah Janto.

“ Apa kamu akan menikahiku. Tanyanya mencari kepastian. Hanya terdengar bunyi berdesis dari mulut janto dan jari – jari telunjuk yang ditempelkan kebibirnya. Ia sudah tahu jawabannya.

“ Ia tidak akan menikahiku. Ucapnya dalam hati. Ia pejamkan mata mencoba untuk tidur tetapi matanya menatap tajam pada keremangan ruangan itu. Beberapa menit berlalu ia duduk diatas ranjang kemudian menatap tubuh Janto yang sudah tertidur diranjangnya. Ia beranjak dari ranjangnya memakai baju dan jaket ia ingin keluar dari ruangan itu untuk mendinginkan otaknya yang terasa panas karena terlalu banyak persoalan yang ada dikepalanya.

Ia berjalan gontai menyusuri jalan disamping rel kereta itu. Gelap tak ada cahaya hanya dia sendiri melangkah dalam kegelapan. Dalam setiap langkah kakinya ia selalu berkata dalam hatinya.

” Tak ada orang yang mau menerimaku bahkan tikuspun enggan mendekatiku. “ Waktu benar – benar kejam memperkosaku hingga tidak ada lagi yang tersisa dalam kehidupanku. Ia membakar sebatang rokok untuk menemani langkah kakinya yang tanpa tujuan.

“ Tubuhku mulai melemah dan kulit – kulit tubuhkupun perlahan – lahan mulai mengendur dan wajahku mulai nampak tua dan jelek dan… Dan … dan yang pasti aku tidak akan bisa lagi mencari uang dengan mengandalkan tubuhku ini. Kegelisahan berkecamuk di dalam hatinya. Ia hembuskan asap rokok yang segera berhamburan terbang bersama angin yang dingin menggigil. Cahaya lampu berkerlap – kerlip dari kejauhan dan berbutir – butir tetesan air berderet pada kabel listrik memancar bagai permata berkilauan. Ia terpesona sebentar menyaksikan keindahan itu. Sesaat kedamaian mengalir perlahan dalam hatinya membasahi sekian lama dari rasa dahaga yang mencekik.

Seekor kucing hitam mengagetkannya dengan suara geramannya. Mata kucing itu berkilat mengerikan menatapnya dengan tajam seperti mengatakan bahwa ia sudah tak berguna sama sekali. Dalam sekejap mata ingatannya kembali pada masa lalunya yang hitam sehitam kucing di depannya. Ia kembali terluka menyaksikan kenyataannya sendiri yang hitam gersang dan meranggas dalam akar dosa. Ia ingin berteriak tetapi mulutnya terbungkam seperti terkunci ia kecewa dan marah dengan kehidupannya sendiri. Ia lari dan terus berlari melewati jalan rel itu sambil tak hentinya air mata berlinangan di pipinya. Suara adzan yang berkumandang membelah langit fajar bersamaan dengan suara kereta api yang menderu – deru dari arah depan menyorot tubuhnya dengan lampu. Ia tersadar kereta berada di depannya hanya sejauh dua meter. Seperti monster bermata api kereta itu menerjangnya dan tak sempat ia menghindar. Tubuhnya pecah berantakan bagaikan gelas yang terhantam kelantai. Ia mati dengan cara yang mengenaskan.

Pagi menjelang suara burung bersahut – sahutan seperti hari biasanya tanpa merasa ada sesuatu yang janggal pada pagi ini. Janto menggeliat karena beberapa orang begitu ribut dan ia merasa terganggu. Ia balikkan tubuh hendak memeluk Ipah tetapi tangannya hanya menangkap udara kosong. Ia buka matanya dan melihat ipah tidak ada disisinya. Ia bangun dan duduk dipinggir ranjang.

“ Sepagi ini dia sudah pergi, kemana dia? Ia bertanya dalam hatinya sendiri. Ia menatap baju – baju pada gantungan.

“ Jaketnya tak ada. “Berarti ia keluar tetapi kemana? Ada sebuah perasaan takut yang aneh yang segera datang menyergap jiwanya. Kegelisahan memaksanya untuk keluar dari dalam gerbong itu. Ia buka pintunya dan matahari pagi sesaat menyilaukan matanya. Ia kucek – kucek matanya agar ia dapat melihat dengan jelas alam raya yang baru saja terbangun dari mimpi malamnya.

Pak Sombro menghampirinya. Ia gelisah berdiri didekat Janto yang juga telah berdiri dekat gerbong.

“ E… e … Jan… Pak sombro menatap lekat – lekat pada wajah Janto seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun hanya bulir air mata jatuh dari kedua sudut matanya.

“ Ada apa pak? Janto merasa ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi dan ia tak tahu apa itu. Pak Sombro hanya menunjukkan jarinya ke arah barat dimana banyak orang berkerumun ditempat itu. ketakutan dan Kekhawatirannya bertambah besar dalam dirinya. Ia berlari ke arah kerumunan dan melihat jaket Ipah sudah terkoyak tak jauh dari kerumunan itu. Ia semakin tahu Sesuatu yang buruk terjadi pada diri Ipah tetapi ia belum begitu yakin. Ia menyeruak masuk kedalam kerumunan itu. Saat ia sudah bisa melihat apa yang sedang dilihat semua orang berkerumun itu. Kakinya bergetar hebat dan dadanya berdegup kencang tak beraturan. Ia melihat tubuh Ipah yang dikumpulkan menjadi satu di atas selembar Koran.

Seluruh anggota badan Ipah terpisah – pisah dan kepalanya tergeletak seperti kepala sebuah boneka. Janto menitikkan air matanya. Ia sepeti melihat kembali kejadian sebelumnya saat Ipah mengajaknya untuk menikah dan memulai hidup yang baru dan ia menolaknya. Rasa sakit menyayat hatinya. Ia tatap mata Ipah pada kepalanya yang terlepas itu. Matanya masih bening menatap sekelilingnya. Janto bergidik dan surut ke belakang keluar dari kerumunan, ia tak sanggup berada di tempat itu. Ipah telah pergi membebaskan dirinya dari belenggu dunia yang hitam ini dan dirinya masih terpenjara dalam kehidupan yang semakin gelap karena kepergiannya. Ia tak tahu harus ia kemanakan jiwanya setelah kepergian ipah. kemurungan dan kesedihan selalu menghias wajahnya. Ia sekarang sering berjongkok seperti Parno. Melamunkan sesuatu yang pernah terjadi atau mencari sebab dari sebuah sebab yang ia tak tahu sebabnya. Ia mungkin tahu seluruh perjalanan hidup pada akhirnyapun harus berakhir tetapi ia tak juga beranjak dari lamunanya dan meneruskan hidup. Ia terkepung oleh rasa bersalah dalam dirinya sendiri dan menjadikannya seorang pelamun di tepi rel kereta. Dari hari kehari tepi rel itu semakin banyak orang yang melamun dan menunggu sesuatu yang tak akan pernah terjadi walaupun mereka mengerti arah kereta itu dan kemana tujuannya tetapi mereka tak mengerti tujuan hidupnya sendiri. Mereka berakhir dalam lamunan berhari – hari bahkan tahunan dan melewatkan semua yang terjadi di atas bumi. Itulah sebuah kesialan hidup.     

SELESAI

Nantikan Cerpen kami selanjutnya, atau jika ingin cerpen anda di publish disini, dapat menghubungi yang tersedia. Matur Suwun

   

Admin-Art

Admin-Art

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X