Artiseni

Hanya Kami Yang Tahu

“Halo”

Tangan perempuan itu menurunkan perseneling mobil, memelankan laju Honda Jazz kesayangan selagi menerima telepon.

“Iya, saya Nina. Maaf ini siapa, ya?” Tangan kanannya kini sibuk bergerak memperbaiki earbuds wireless di telinga. “Sifa? Ini Sifa? Ya ampun. Udah lama banget, ya. Apa kabar, nih?”

Senyum lebar mekar di bibir tebal perempuan itu. Walau begitu, matanya tetap fokus menatap jalan di depan. Beruntung jalan raya di jam segini sepi sehingga ia tetap santai berbincang melepas rindu dengan Sifa, sahabat masa kecilnya, melalui line telepon.

“Aku baik. Kenapa? Tumben telepon.” Perempuan itu lihai menginjak rem dan menghentikan mobil di belakang zebra cross.

“Reuni SMA? Kok aku nggak tau. Hmm, hari ini? Kebetulan aku pulang hari ini. Keburu nggak ya kalo langsung ke sana?”

Lampu merah berganti hijau dan perempuan itu menjalankan mobil lagi. Pemandangan familiar tertangkap pandangan. Mungkin ia terlalu lama pergi dari kota masa kecilnya itu. Belum sampai saja sudah rindu.

“Iya deh, aku ikutan. Udah lama juga kan. Ajak yang lain juga dong. Iya, aku ke SMA langsung. Well, paling jam 10 sampe sana? Ok, see you. Iya, kapan sih aku nggak ati-ati. Hahaha. Daah, sampe ketemu ya.”

Perempuan itu mematikan telepon. Hah, reuni SMA. Rasanya lama sekali ia tidak melihat bangunan abu-abu tua yang menghiasi masa mudanya itu. SMA selalu menjadi masa paling menyenangkaan untuk siapapun, termasuk perempuan itu. Mulai dari pelajaran, aktivitas luar kelas, hingga orang-orang di sana. Jadi kangen, batinnya. Tanpa sadar, Honda Jazz melaju semakin dekat ke tujuan membuatnya tertegun. Ketika kenangan SMA menyeruak, ia justru tiba di jalan ini. Jalan penuh kenangan semasa SMA. Jalan dengan kenangan bersama lelaki itu

“Ih, pelan-pelan bisa nggak, siiihh,” omel Nina. Dengan liar, ia memukul punggung lelaki yang tengah mengemudi. Si pemilik punggung hanya mengaduh pelan, meringis sakit sambil tetap menjalankan motor matic-nya kencang.

“Abdul denger nggak sii.. Aduhh.” Sekarang gantian Nina mengaduh karena Abdul, si pengendara motor, menghentikan motor mendadak di lampu merah. “Ih sakit. Makannya pelan-pelan aja, dong.” Nina mengomel lagi. Tak tahan dengan omelan si pembonceng, Abdul sedikit memiringkan tubuh berusaha menengok ke belakang.

“Makanya diem. Jangan liar,” ucapnya telak membuat perempuan itu terdiam kecut.

“Makannya jalannya pelan-pelan,” protes Nina sekilas memukul punggung lelaki di depan. Tangannya kemudian sibuk berpegangan erat saat motor kembali melaju kencang. Abdul sialaann, umpatnya keras dalam hati.

Tiinn

Suara klakson mobil di belakang menyadarkan perempuan itu.  Ia kembali menjalankan mobil. Abdul sialan. Bahkan sampai sekarang ia masih sialan karena tiba-tiba muncul lagi di pikiran. Ah. Perempuan itu menggelengkan kecil berusaha kembali fokus mempercepat laju kendaraannya.

Reuni SMA, ya? Orang seperti Abdul enggak bakal datang.

Tangannya dengan lihai memutar stir memperbaiki parkir sebelum ia keluar dari mobil. Senyum lebar muncul di bibir ketika ia memandang bangunan di depannya.

Dengan gugup, perempuan itu memperbaiki kerah jas yang ia pakai sambil melangkah. Kalau tahu akan datang ke reuni SMA tentu ia tidak akan memakai jas kerja sekarang. Terlalu formal. Perempuan itu baru mendarat tadi pagi dari Los Angeles dan itu satu-satunya baju yang mudah diambil dari koper. Inilah alasan mengapa ia memakai jas kerja di hari libur. Masih untung sempat mandi di kamar mandi bandara. Kalau enggak, ya kali pergi ke reuni SMA bau pesawat.

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X