Artiseni

HARI BURUH 1 MEI DAN SEJARAH PERJUANGAN MARSINAH

Setiap tahunnya tanggal 1 Mei akan diperingati sebagai Hari Buruh Internasional termasuk di Indonesia. Apakah buruh telah mendapatkan keadilan dan haknya?

Oleh: Nada Pertiwi

Hari Buruh atau disebut juga dengan May Day awal mulanya berasal untuk memperingati perjuangan 400.000 pekerja di Amerika serikat yang menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Tuntutan ini disampaikan dengan cara melakukan demo selama empat hari yang dimulai dari tanggal 1 hingga 4 Mei di tahun 1886. Pada hari keempat, aksi demo diwarnai oleh aksi tembak-menembak yang dilakukan oleh petugas keamanan kepada para demonstran.

Di Indonesia, peringatan Hari Buruh sempat mengalami kegamangan. Di era kepemimpinan Presiden Seokarno, masyarakat Indonesia diperbolehkan untuk merayakan Hari Buruh. Selanjutnya, di era kepemimpinan Presiden Soeharto peringatan hari buruh ditiadakan karena dianggap memiliki ideologi yang sama dengan ideologi komunisme. Untuk menegaskan dilarangnya hal-hal yang berhubungan dengan hari buruh tersebut, Presiden Soeharto bahkan mengganti nama Kementerian Perburuhan menjadi Kementerian Ketenagakerjaan. 1 Mei kemudian berhasil ditetapkan sebagai Hari Buruh dan hari libur nasional pada masa kedudukan Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2013 selaku Presiden Indonesia kala itu.

Membahas sejarah Hari Buruh dan perjuangan buruh di Indonesia, tentu masyarakat Indonesia tidak dapat melupakan sosok Marsinah. Marsinah merupakan salah seorang pekerja di perusahaan arloji yakni PT. Catur Putra Surya. Ia bersama teman sesama pekerja menuntut kenaikan gaji di perusahaan tempat mereka berkerja, menagih apa yang tertera dalam surat edaran Nomor 50/Th.1992. Edaran tersebut berisi instruksi dari Gubernur KHD Jawa Timur kepada perusahaan untuk menaikan gaji pokok karyawan sebanyak 20%.

Proses menuntut kenaikan gaji kepada PT. Catur Putra Surya dilakukan dengan cara melakukan aksi mogok kerja pada 3 Mei 1993. Aksi hari pertama dipimpin oleh Yudo Prakoso namun Ia ditangkap dan dibawa ke Kantor Komando Rayon Militer (Koramil). Sejak saat itu, aksi diambil alih dan dipimpin oleh Marsinah. Pada 4 Mei, Yudo Prakoso bersama 12 buruh lain yang terlibat dalam perencanaan tuntutan dan aksi mogok kerja dipaksa mengundurkan diri dari tempat mereka bekerja. Mendapatkan kabar tersebut, Marsinah berencana menuntut Komando Distrik Militer (Kodim). Esoknya pada 5 Mei Marsinah diamankan ke Komando, para buruh dipanggil ke Kodim pada 6 Mei dan kembali bekerja pada 7 Mei.

Design grafik/Adib A Hanif

Marsinah tidak terlihat bekerja pada 7 Mei tersebut namun ditemukan keesokan harinya, 8 Mei 1993, di daerah Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur dalam kondisi tidak bernyawa. Hasil visum menunjukan tulang kemaluan Marsinah bagian kiri patah berkeping-keping dan bagian kanan patah, tulung usus kanan patah sampai terpisah, selakangan kanan patah seluruhnya, labia minora kiri robek, luka sebesar 3 cm di bagian alat kelamin, dan terjadi pendarahan di rongga perut (Mata Najwa, 2013). Peradilan mengungkapkan bahwa balok merupakan alat yang digunakan untuk menyiksa Marsinah.

Abdul Mun’im Idries, ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang turut menyelidiki kasus Marsinah, merasakan kejanggalan terhadap barang bukti yang disebutkan Peradilan. Dalam wawancaranya di acara Mata Najwa pada 18 September 2013, Idries mengatakan “Melihat lubang kecil dengan kerusakan yang masif, apa kalau bukan luka tembak? Pelakunya ya siapa yang punya akses tembak?

Penyebab kematian Marsinah masih menjadi misteri tetapi namanya terus digaungkan sampai hari ini ketika para buruh melakukan aksi setiap tanggal 1 Mei. Mereka melanjutkan semangat Marsinah saat memperjuangkan hak asasi manusia dan hak kaum buruh. Namun, sudah tercapaikah perjuangan itu pada hari ini?

Kasus buruh pabrik korek api meninggal akibat tidak dapat keluar menyelamatkan diri saat pabrik terbakar di Sumatera Utara, kasus buruh perempuan di pabrik garmen di Cakung Jakarta Utara yang tidak diberikan cuti hamil dan tidak dijadikan pegawai tetap padahal sudah lebih dari 2 tahun bekerja, kasus gaji buruh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) di Aceh, dan kasus penyekapan buruh di Tanggerang merupakan sedikit dari sekian banyak kasus yang masih menimpa kaum buruh di Indonesia sampai hari ini. Padahal, kesejahteraan untuk para buruh sendiri sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Menilik dari kasus-kasus tersebut, nampaknya masih panjang perjuangan Marsinah dan teman-teman buruh untuk mendapatkan hak mereka sebagaimana mestinya.

Referensi:

https://tirto.id/pembunuhan-buruh-marsinah-dan-riwayat-kekejian-aparat-orde-baru-cJSB

https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/30/212338465/sejarah-hari-buruh-di-indonesia-dulunya-dilarang-kini-jadi-hari-libur?page=all

https://www.youtube.com/watch?v=wKJ6h3MMymk&feature=youtu.be

https://www.merdeka.com/peristiwa/4-kasus-penganiayaan-terhadap-buruh.html

Admin-Art

Admin-Art

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X