Artiseni

KITA TIDAK AKAN LUPA PADA JANENGAN

Oleh: Muhamad Iqbal

Suasana pementasan Janengan di Kabupaten Kebumen/Youtube Imam Baihaqi

Beberapa minggu yang lalu, di bulan Agustus bertepatan dengan peringatan
Kemerdekaan Indonesia desa saya menggelar acara malam tirakatan. Pada malam itu
kami disuguhi sebuah kesenian yang cukup asing di telinga, terutama kalangan anak
muda. Kesenian tersebut adalah Janengan.

Janengan merupakan salah satu seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di
daerah Kabupaten Kebumen. Beberapa orang menyebutnya sebagai shalawat Jamjaneng, sedangkan sebagian lagi menyebutnya dengan Janengan.

Masyarakat Kebumen menyebut bahwa seni tradisi ini sebagai khas musik tradisional Kebumen. Hal tersebut karena memang kesenian semacam ini tidak berkembang atau tidak ada di kabupaten sekitar seperti Banjarnegara atau Wonosobo. Di Purworejo, Janengan bisa ditemui namun di bagian perbatasan Kebumen.

Lalu apa itu janengan? Janengan merupakan sebuah kesenian berupa sholawat
yang lafal-lafalnya merupakan akulturasi kebudayaan Islam dengan Jawa. Janengan
bisa dibilang merupakan salah satu peninggalan dari Walisongo yang diperkirakan sudah ada dari abad 15 atau 16. Nilai historis yang dimiliki oleh Janengan juga hampir sama dengan wayang kulit. Mereka sama-sama kesenian yang digunakan sebagai media
dakwah pada awal penyebaran Islam.

Bentuk tembang dalam Janengan merupakan perpaduan antara musik jawa
dengan sholawat dan syi’ir Jawa. Salah satu hal yang yang unik dalam Janengan adalah
penyanyi melagukan dengan nada yang tinggi dan melengking. Kemampuan seperti ini
memang sudah cukup jarang ditemui di antara pegiat Janengan. Bahkan menurut salah
satu tetua kelompok Janengan, untuk mendapatkan suara semacam itu diperlukan
semacam laku seperti tidak memakan makanan seperti trancam terong.

Sedangkan untuk alat musik yang dipakai dalam kesenian Janengan bisa dibilang
sangat sederhana. Pada awalnya alat musik yang dipakai hanya terdiri dari atas alat
musik tepuk. Namun setelah mengalami modifikasi, alat musik janengan sekarang berisi seperti tuling, kemeng, ukel, gong, dan kendang. Semuanya merupakan alat musik ritmis dengan teknik bermain dipukul.

Tuling adalah alat yang terbuat dari bambu. Cara membunyikannya dengan
dipukul menggunakan alat pemukul. Kemeng, ukel, dan gong adalah alat musik yang biasa disebut sebagai terbang jawa. Hal yang membedakan dari ketiga alat musik tersebut ada pada ukurannya saja. Kemeng memiliki ukuran yang kecil, lalu ukel
dengan ukuran sedang, dan gong yang paling besar. Seiring dengan perkembangan
waktu, penggunaan keyboard dalam music Janengan kini menjadi hal yang lumrah.

Kesenian Janengan diharapkan tetap bisa eksis di era sekarang. Dikarena Janengan
merupakan salah satu peninggalan sejarah zaman dahulu dengan umur yang bisa
dibilang cukup tua. Ikut melestarikan Janengan bisa menjadi bentuk penghargaan atas jasa-jasa atau tokoh dan orang terdahulu sehingga kita bisa terus mengingatnya. Semoga kesenian ini tidak hanya berhenti di generasi kita dan terus lestari hingga kapan pun.

Referensi:

https://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/download/254/23

Penyunting:

Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X