Artiseni

KREDIT

Karya Pulung L A

Hari sudah sore dan Aryanto belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Padahal ia ingin sekali pulang karena hari ini tukang kredit akan datang ke rumahnya untuk menagih angsuran televisi yang sudah tiga bulan lalu di ambilnya. Ia gelisah hingga baut – baut yang di pasangnya terbalik – balik atau jatuh bergamburan dan ia mengulanginya lagi. Pekerjannya yang sudah di lakoni empat tahun ini sudah cukup buat dia untuk hidup layak. Sepeda motor juga baru di ambilnya dari dealer enam bulan yang lalu walaupun cuma kredit tetapi ia dapat pergi kemana saja ia suka tanpa harus kerepotan mengeluarkan ongkos yang banyak untuk sekedar berjalan – jalan mengusir suntuk.

 Ia rebahkan badannya setelah sampai dirumah, pakaiannya belum sempat ia ganti. Kelelahan tampaknya menghinggapi tubuhnya. Suara ketukan dipintu depan memaksa dia harus beranjak dari ranjangnya. Ia buka pintu seraut wajah laki – laki dengan kumis tipis tersenyum kepadanya.

O…, mamang, masuk mang. Tukang kredit itu masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

”Kurang berapa saya mang? Sambil menyulut rokok filter.

“ Tiga kali angsuran lagi mas dan barangnya lunas. Ia tersenyum ke arahku. Kusodorkan uang yang memang sudah aku peresiapkan kemarin.

” Ini mang. Ia mengambilnya dan mencatat dalam bukunya kemudian memberikan secarik kertas bukti pembayaran setelah ia selesai menulis. 

“ Saya punya barang bagus lagi mas kalau mas mau. Agak ragu menawarkan barangnya.

“ Barang apa?  Tanya Aryanto.

“ HP, bagus mas harganya juga nggak mahal – mahal banget kok. Mulai membuat penawaran yang menarik.

“ Aku lihat barangnya dulu kalau bagus aku ambil. Gimana? Ganti menawarkan pilihan pada tukang kredit itu.

“ Besok akan saya bawa kemari dan mas bisa lihat barangnya. Aku tersenyum dan ia pamit undur diri.

Segelas kopi mengepulkan uap panas  dari gelas dan asap rokok memenuhi ruangan. Aryanto duduk bersantai di ruang tamunya. Ia menikmati semua jerih payahnya bertahun – tahun. Ia memandang berkeliling menatap seluruh perabot rumahnya. Semua barang sudah ada di rumahnya. Kompor gas, Kipas angin, sofa, meja makan, sepeda motor dan televisi. Semuanya sudah terpajang di rumahnya dan semua itu di belinya dengan kredit. Tak ada barang cash di rumahnya. Sepeda motornya belum lunas masih tiga setengah tahun lagi, sofanya juga belum lunas mungkin tiga bulan lagi baru lunas, televisi dan entah apa lagi yang belum ia lunaskan. Setiap hari selau saja ada yang datang ke rumahnya untuk menagih barang yang ia ambil secara kredit itu. Mang Jali, mang Udel, Koh Homing, dan petugas dealer. Ia selalu saja bertemu dengan orang – orang itu dan terkadang membuatnya muak.

Kemarin koh Homing menagih sofanya dan kemarinnya lagi  mang Udel menagih panci dan piring – piring juga gelas, barusan mang Ucan menagih televisinya. Ia sampai mengenal karakter orang – orang yang menagih hutang kepadanya. Koh Homing yang selalu marah – marah kalau tagihannya tidak dibayarkan  pada tanggal yang sudah ditentukan dan marah dengan logat cadelnya yang membuat Aryanto menahan tertawa karena merasa lucu dengan dialek Koh Homing. Mang udel yang terlihat bodoh saat datang di depan rumahnya dan selalu mengangguk –anggukkan kepala saat ia menjelaskan sesuatu atau mang Ucan yang selalu tersenyum ramah walaupun ia tidak bisa membayar saat ia datang. Ia muak dengan semua itu ia hanya ingin kehidupannya tenang tanpa gangguan dari para tukang kredit itu. Ia merasa dikejar – kejar oleh mereka.

Ia duduk disofa sembari meminum teh hangat. Ia tengadahkan kepalanya menatap eternit rumahnya. Pikirannya terbang melayang bersama kepenatan yang menggelayuti tubuhnya. Ia memejamkan matanya sebentar tampak bayangan dalam matanya, semua imajinasi tentang hidupnya sendiri. Ia membayangkan dirinya memakai stelan baju yang sangat mewah sedang turun dari sebuah mobil sedan warna biru mengkilat dan orang – orang melihatnya dengan tatapan penuh kekaguman. Ia sunggingkan bibirnya menampakkan wajah yang ramah tersenyum menyapa mereka semua. Beberapa orang perempuan cantik tampak menunggu kedatangannya. Wajah – wajah cantik mereka berharap ia akan mengajaknya untuk menikah. Aryanto tersenyum sendirian dan matanya masih terpejam ia larut dalam khayalannya.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, Maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X