Artiseni

Lagu Kesedihan dari Sang Legenda Eric Clapton

Ditinggalkan oleh orang yang sangat disayangi tentu merupakan pukulan berat dalam sebuah periode kehidupan. Rasa-rasanya seperti hal yang tidak mungkin terjadi.

Tapi itulah yang dialami oleh Eric Clapton. Musisi, gitaris, pencipta lagu asal inggris ini pernah merasakan perasaaan tersebut, luka yang sangat mendalam.

Eric Clapton performs on stage playing acoustic guitar at the Royal Albert Hall, London, 1998. (Photo by Phil Dent/Redferns)

Hal itu Clapton alami ketika anak laki-lakinya, Conor, yang sedang menginjak umur 4,5 tahun jatuh dari lantai 53 di apartemennya di Manhattan, Amerika Serikat pada 20 Maret 1991.

Clapton saat itu kebetulan sedang tidak berada di apartement tersebut bersama anaknya dan istrinya Lori Del Santo, seorang artis dari italia. Ia sedang bersiap di hotel untuk menjemput Conor dan akan makan siang bersama-sama.

Clapton kemudian mendapat telepon dari apartementnya dan mendapati Lori sedang menangis histeris memberitahu jika Conor telah meninggal. Diketahui ternyata jendela apartement tersebut terbuka setelah dibersihkan oleh petugas kebersihan apartement.

Mimpi buruk Clapton tersebut ia dituangkan dalam lagunya berjudul “Tears in Heaven” yang ia garap bersama Will Jeanings. Lagu tersebut berhasil menjadi lagu Eric Clapton yang paling popular dimana berhasil menduduki peringkat dua Billboard pada tahun 1992. Kemudian di tahun yang sama Clapton juga telah merilis album Unplagged.

Pada tahun 1993, Eric Clapton berhasil memenangkan tiga grammy awards sekaligus dalam kategori Best Pop Vocal performance, Record of The Year, dan Songs Of the year.

Kematian Conor sempat membuat musisi dengan julukan slowhand ini menghilang beberapa bulan setelahnya, mengingat Conor sangat berpengaruh dalam hidup Clapton. Conor adalah alasan untuk Clapton berhenti menggunakan obat-obatan terlarang dan berhenti menjadi soerang alkoholik.

Beruntung kematian Conor tidak malah membuat Clapton kembali menjadi seorang yang dulu lagi. Musisi ini memanfaatkannya dengan kegiatan yang positif dan mencari hiburan dari gitarnya serta menciptakan musik.

Selain lagu “Tears in Heaven”, Eric Clapton juga mengabadikan kenanangan bersama Conor dalam lagu berjudul “Circus Left Town” dimana Ia menghadiri pertunjukan sirkus bersama Conor sebelum malam kematian anaknya.

Kesedihan adakalanya pasti akan muncul dalam hidup, namun orang memiliki pilihan untuk larut terus menerus dalam kesedihan atau perlahan berdamai dengannya dan segera bergembira.

Clapton mungkin adalah salah satu orang yang memilih pilihan kedua dan segera merayakan kegembiraan-kegembiraan yang lainnya dalam hidupnya. Panjang umur semangat baru!

Referensi:

https://www.idntimes.com/hype/entertainment/nur-mar-a-siregar/7-fakta-eric-clapton-gitaris-terbaik-dunia-c1c2/6

https://www.biography.com/news/eric-clapton-tears-in-heaven-son#:~:text=Conor%20accidentally%20fell%20to%20his,to%20the%20Central%20Park%20Zoo.

https://www.guitarworld.com/features/tragedy-inspires-eric-claptons-tears-heaven#:~:text=In%201991%2C%20following%20the%20death,New%20York%20City%20apartment%20building.

Penulis: Muhamad Iqbal

Peyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
Kunjungi Chanel Youtube Artiseni
27 Karya Peserta Lomba Membaca Puisi Kontemporer telah di Upload
id Indonesian
X