Artiseni

Lembuswana Hewan Mitologi, Ikon Kerajaan Tertua di Indonesia

Oleh: Catherine Lawinata

Patung Lembuswana dengan Posisi Tegap Berdiri/Kumparan.com

Kutai Kartanegara merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di hulu sungai Mahakam, Muarakaman, Provinsi Kalimantan Timur. Merujuk pada buku karya Ni Komang Ayu Astiti yang berjudul “Pusat Kerajaan Kutai Kartanegara Abad XIII – XVII Dalam Pembangunan Pariwisata Daerah” nama Kutai Kartanegara diambil dari bahasa Sansekerta yaitu krtayang artinya membuat peraturan dan nagara artinya ibukota, kerajaan.

Kutai Kartanegara atau biasa disebut dengan Kota Raja terkenal karena keunikannya pada sistem kepercayaan serta legenda yang dianut oleh masyarakat setempat, salah satunya adalah hewan mitologi Kutai Kartengara yaitu Lembuswana.

Lembuswana merupakan seekor lembu yang memiliki belalai dan gading seperti gajah (melambangkan Dewa Ganesha sebagai dewa kecerdasan), bertaring seperti macan, kulit bersisik seperti ikan, dan memiliki mahkota di atas kepalanya yang melambangkan keperkasaan seorang raja.

Menurut cerita rakyat yang dikutip dari situs Kesultanan Kutai Kartanegara mengatakan bahwa, “kemunculan Lembuswana dari dasar sungai Mahakam tidak terlepas dari kisah lahirnya Putri Karang Melenu yang kemudian hari menjadi istri dari Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti raja pertama kerajaan Kutai.” Masyarakat mempercayai bahwa Lembuswana merupakan penguasa yang bernaung di dasar sungai Mahakam; masyarakat juga mempercayai bahwa Lembuswana merupakan ‘kendaraan spiritual’ raja Mulawarman, salah satu raja yang cukup terkenal karena membawa kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaan.

Hewan Mitologi ini memiliki semboyan yaitu Tapak Leman Ganggayaksa, yang dapat diartikan setiap orang seharusnya memiliki sifat-sifat mulia pengayom rakyat. Meski telah meretas masa, dari zaman kerajaan hingga saat ini, makna yang tersampaikan dalam ruang lingkup masyarakat Kutai tidak berubah yakni sosok pemimpin harus mengayomi rakyatnya.

Dilansir dari TribunKaltim, sejarah mencatat bahwa patung Lembuswana mengalami dua kali perubahan model. Model pertama patung Lembuswana berpose duduk di atas pijakan besar; akan tetapi banyak tanggapan dari masyarakat setempat bahwa Lembuswana yang sedang duduk melambangkan kelambatan atau kemunduran dari pemerintahan di Kutai Kartanegara. Sehingga, pada tahun 2010 desain patung tersebut diubah menjadi tegap berdiri seperti yang bisa dilihat hingga saat ini.

Patung Lembuswana dengan Posisi Duduk/NativeIndonesia.com

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartenagara bekerjasama dengan staff ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendesain ulang bentuk dari patung Lembuswana. Patung ini memiliki berat sekitar 25 ton dengan tinggi 13 meter.

Patung Lembuswana dilapiskan dari tiga bahan dasar yaitu perunggu, tembaga, dan kuningan. Tempat pembuatannya sendiri bisa dikatakan cukup jauh yaitu di kota Gede, Bantul Yogyakarta dan dikerjakan oleh 27 orang seniman patung.

Referensi:

Penyunting:

Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
Kunjungi Chanel Youtube Artiseni
27 Karya Peserta Lomba Membaca Puisi Kontemporer telah di Upload
id Indonesian
X