Artiseni
Cloud Hosting Indonesia

NENEKKU DAN KOREK API

Korek itu telah menjelma menjadi sesuatu yang hidup dan memiliki nilai sejarah tersendiri dan takkan hilang kecuali kematian nenek itu yang sesungguhnya kematiannya  tidak menghilangkan sebuah sejarah yang tersimpan dalam korek.

Karya Pulung L A

Pukul empat pagi cahaya matahari belum terbangun dari mimpinya. Kokok ayam jantan memanggil iblis untuk kembali ke sarangnya. Seorang manusia telah bangun dari istirahat malamnya, beranjak melakukan aktifitasnya. Mengambil air wudlu di samping rumah kemudian mengerjakan sholat subuh. Nenek tua renta yang hidup dengan dunia yang semakin tua dan masih saja menjalankan aktifitas yang ia sendiri tidak pernah mengerti kenapa ia melakukannya. Dari tahun ketahun ia ucapkan lafal memuja Tuhan, menunduk dalam dan bersujud untuk sesuatu yang ia pahami dari orang- orang sebelumnya. Usianya yang semakin bertambah dan semakin mendekati kematian mengajaknya untuk berdamai dengan pemberi hidup mungkin itulah satu- satunya alasan kenapa ia melakukan hal itu.

Doa- doa telah teruntai ribuan kalimat, sajadah telah lelah menahan beban tubuhnya tetapi dia belum beranjak dari tempatnya entah apalagi yang ia minta hingga dia bersimpuh lama dalam bilik tempat ibadah itu. Doa telah selesai ia menuju dapur ingin menjerang air untuk membuat teh hangat minuman kesukaannya. Kompor disudut ruangan teronggok seperti barang rongsokkan yang tidak terpakai. Nenek menuju kompor itu mencari korek yang biasa diletakkan disamping kompor tetapi korek itu tidak ada.

“ Semalam sebelum aku tidur aku menaruhnya di sini tetapi kok sekarang  tidak ada. “ Dimana korek itu? Kebingungan menambah kerut di wajahnya yang memang sudah berkerut. Ia duduk dibangku berpikir keras. “ Semalam korek itu masih ada…        “ Aku tahu betul karena sebelum aku tidur aku membawanya untuk menyalakan obat nyamuk dan…dan.. aku menaruhnya di meja kamar tidur. “ Iya…iya…Wajahnya tersenyum malu. “ Heh…benar-benar sudah pikun aku sekarang ini. Segera ia bergegas menuju bilik kamar.

Sebuah korek api yang sudah tidak ada harganya sama sekali. Korek api yang terbuat dari besi dan diisi dengan minyak tanah dengan sumbu jelek, warna korek itu sudah memudar karena sudah usang tetapi bagi nenek itu korek adalah sebagian atau bahkan seluruh hidupnya. Hanya korek itulah satu-satunya kenangan yang tersisa dari suaminya yang telah hampir dua puluh tahunan meninggalkan dirinya sendiri melewati hidup. Korek yang dihadiahkan oleh suaminya saat upacara pernikahan berlangsung dengan kebahagiaan yang berlimpah. Korek itu direbut dari tangan prajurit kompeni yang bertugas patroli dan dihadang oleh para gerilyawan dan merampas senjata mereka untuk  melanjutkan perjuangan Indonesia merdeka, prajurit itu sedang menyalakan rokok ketika para gerilyawan menyergap dan langsung menggorok lehernya dengan belati. Salah seorang gerilyawan itu menyempatkan diri mengambil koreknya yang terjatuh dan berlumuran darah saat teman-teman yang lain sibuk  mengambil senjatanya dan segera bergegas memerintahkan teman-temannya untuk segera kabur kembali ke markas.

 Sekembalinya dari penyerangan mereka berpesta. Singkong rebus dan kacang rebus diatas tampah besar nampak mengepulkan uap panas, gelas- gelas terisi air teh hangat, suasana menjadi riang penuh tawa, kemenangan besar hari itu bagi para gerilyawan. Mereka bercanda, bercerita dengan tawa yang riang tanpa beban.

“ Kamu tahu apa yang terjadi tadi saat golokku menempel di lehernya, dia…dia minta ampun dan celananya basah oleh air kencingnya sendiri… ia  ngompol dicelananya. Semuanya tertawa mendengarkan Barjo bercerita. “ Tetapi kemudian aku langsung gorok aja lehernya sebelum dia berteriak.

“ Benar…benar. Memang sudah seharusnya mereka kita bunuh, Mereka tidak layak hidup diatas tanah nenek moyang dan menguras seluruh isinya tanpa memikirkan siapa yang berhak memakainya. Timpal Supri dengan nada berapi- api. Mereka kembali bercerita dan bercanda dalam ruangan berlampu minyak tanpa peduli waktu berjalan semakin larut.

 Di depan gubuk suara-suara orang bercanda tidak dihiraukan Marto yang duduk dibangku panjang diam berpikir keras. Kegelisahan hatinya begitu kuat melingkari isi kepalanya, mukanya semrawut. Pikirannya menuju pada satu hal saja. Bangku dari bambu berderit menjerit menahan beban tubuh laki-laki dan seolah –olah tahu apa yang digelisahkan oleh marto.

”Minggu depan aku akan menikah dengan Priyatin penyanyi keroncong yang selalu menghiasi ruang mimpiku dan memberikan arti lebih pada kehidupan yang aku jalani juga semangatku untuk berjuang memerdekakan tanah air ini menjadi semakin berkobar. “ Tetapi… apa yang akan aku berikan kepadanya sebagai sebuah hadiah pernikahan. “Ah…sial aku tidak punya apa-apa untuk membuatnya bahagia kecuali hanya sekeping cinta yang naïf dan mungkin akan luntur oleh kemerdekaan nantinya. Tangannya merogoh saku mengeluarkan tembakau Srintil kesukaannya. Tangannya mulai bergerak melinting tembakau. Rokok sudah jadi dan diselipkan dibibirnya kemudian mengambil korek api dan menyalakannya. Asap nikotin  mengepul berteman dengan angin malam yang berhembus membuyarkan kumpulan asap.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X