Artiseni

OEROEG (1948)

Novel Oeroeg ditulis oleh Hella S. Haasse dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1948. Hella menulis buku ini dengan latar tempat dan suasana Hindia Belanda pada masa itu, mengingat Hella kecil pernah menghabiskan masa mudanya di Sumedang, Jawa Barat. Pada tahun 2009 Pt. Gramedia Pustaka Utama menerbitkan novel Oeroeg dalam bahasa Indonesia yang telah diterjemahkan oleh Indira Ismail. Novel ini masuk dalam genre roman klasik melihat latar dan tahun penulisan yang sudah cukup tua.

Oeroeg berkisah tentang persahabatan dua bocah kecil berbeda ras di Hindia Belanda pada masa itu. Mereka tumbuh dan besar di daerah perkebunan di Jawa Barat, dengan “mengantongi” identitas ras yang sangat kental. Dikisahkan bahwa Oeroeg dan Aku (narator dalam novel ini) adalah sahabat, ayah Oeroeg adalah mandor di Kebun milik administrateur Belanda yang tak lain adalah ayah dari Aku. Suatu kejadian yang merengut nyawa ayah Oeroeg membuat ayah dari Aku merasa bertanggung jawab dan mengambil hak asuh atas Oeroeg dari keluarganya.

Singkat cerita kedua bocah itu tumbuh dewasa, Oeroeg disekolahkan di MULO sementara Aku sekolah di HBS. Aku dalam perjalanannya melihat bahwa ada perubahan sikap Oeroeg, menjadi kebarat-baratan, meskipun tidak ada perubahan dalam persahabatannya dengan Aku. Meskipun Oeroeg dibesarkan oleh keluarga Belanda, teman-temannya tetap tidak menganggap Oeroeg ada, kecuali Aku. Oeroeg tetap dipandang rendah karena identitas ras yang dibawanya sebagai seorang ‘Inlander’.

Novel ini begitu tegas memandang perbedaan kelas strata sosial yang terjadi pada masa itu, namun dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Hella sebagai penulis sukses membawa pembaca terbawa alur cerita, meskipun tema yang diangkat cukup berat. Penggambaran latar suasana dan latar tempat yang begitu realistis membawa pembaca masuk dalam novel, tidak hanya sebagai seorang pembaca, melainkan menjadi satu sebagai sosok Aku dalam novel.

Hella memang membuat sebuah novel fiksi, namun tidak bisa dipungkiri, bangsa ini hidup dengan sejarah jurang sosial terutama ras yang sangat kental, bahkan sampai saat ini. Novel ini memang tidak memberikan konklusi tentang jurang sosial yang terjadi pada masa itu, namun sebagai generasi saat ini tidak ada salahnya kita belajar seperti tokoh Aku dalam novel yang tidak memandang Oeroeg berbeda, meskipun banyak perubahan yang terjadi.

Referensi:

https://www.femina.co.id/reviews/oeroeg-novel-yang-mengangkat-sejarah-tanah-air

https://www.kompasiana.com/atsuraya/550ac467a333119f1e2e3994/novelia-oeroeg-si-tipis-yang-menyentuh?page=3

https://id.wikipedia.org/wiki/Oeroeg_(novel)

https://koran.tempo.co/read/budaya/178247/hella-s-hasse-dan-kisah-oeroeg?

Penulis: Bima Chrisanto

Penyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
Kunjungi Chanel Youtube Artiseni
27 Karya Peserta Lomba Membaca Puisi Kontemporer telah di Upload
id Indonesian
X