Artiseni
Orang Utan Dan Kehidupannya
Cloud Hosting Indonesia

Pada Suatu Hari Nanti

Oleh : Gian Virgiawan

Tak ada biasa yang begitu pelik seperti peristiwa lembur. Sama seperti malam kemarin, dan malam yang akan datang. Saat penghujung bulan mulai datang, dan tunjangan sudah dibayarkan. Sejauhnya dari tanah rantau, hidup ini harus dipertahankan.

            Stefani, seperti biasa datang ke meja. Berkeluh kesah mengenai pekerjaan yang tiada habisnya. Jebakan nuansa gedung – gedung tinggi di samping jalan beraspal. Kita terjebak di sini karena sama – sama tidak punya kemampuan untuk menanam. Orang rumah ingin kita berhasil. Bukan bergelut dengan cangkul dan tanah melainkan dengan kumpulan notes dan file siap print. 

            “Cerita soal kampungmu!” pintanya sambil menunggu tugas tercetak. Dia inginkan basa – basi sambil menunggu waktu.

            “Perihal apa?”                                                

            “Apa – apa yang membuatmu rindu untuk bertemu?”

            Seketika aku bingung. Sadar bahwa tugas dari bos ternyata membuatmu tak sempat untuk merindu.

            Sambil menerawang mencari ide cerita, aku melihat stiker orang utan di sampul buku catatan Stefani.

Baca juga : Hari Merdeka ?

            “Kenapa kamu punya stiker itu?”

            “Kemarin ikut donasi penangkaran orang utan di Kalimantan. Dapat kaos dan totebag juga. Kebetulan mereka ada stand kampanye di event,” jelasnya sambil memberikan buku catatan itu kepadaku.

            “Di tempat tinggalku dulu, Ayah pernah tangkap orang utan.”

            “Benar? Untuk pelihara?”

            “Tidak. Orang utan itu mati.”

            Akhirnya aku bisa bercerita sedikit tentang kampungku. Tentang masa kecilku. Yang membuatmu terjaga di tengah rutinitas kota, kadangkala adalah pembicaraan ringan dengan teman kerja.

            Di kampung, waktu kecil aku biasa dipanggil Popol. Mendengar itu Stefani tertawa. Dan lebih lebar lagi saat tahu, bahwa nama itu asalnya dari kebiasaanku buang air kecil di celana.

            Ayah adalah seorang perantau. Datang dengan Ibu, Kakak, dan aku yang masih bayi. Ayah diajak oleh Paman yang lebih dulu datang karena program transmigrasi. Namun, lain nasib. Ayah kena tipu. Paman tak mau membantu. Akhirnya Ayah mau tidak mau bekerja serabutan.

            Kebutuhan untuk sekolah kami, akhirnya membuat Ayah mencari kerja yang lebih tetap. Ada lowongan kerja di perkebunan sawit. Ayah diterima kerja di sana. Kadangkala sampai tidak pulang, untuk menjaga kebun dari serangan hama.

            Saat aku bermain dengan Tasya, ada suara ribut di luar. Terdengar suara Ayah dan temannya sedang berdebat. Ibu datang memberitahuku, bahwa teman Ayah membawa akar permasalahan di kebun sawit. Aku mau melihat keluar, tapi Ibu melarangku. Dia bilang aku bermain saja di dalam rumah dengan Tasya.

            Tak lama kemudian ada bunyi meraung – raung. Terdengar juga sayup – sayup gesekan ranting, seperti orang panjat pohon.

            “Incar kepalanya,” teriak Teman Ayah. Bunyi tembakan senapan angin meletup. Raungan menjadi semakin keras. Tasya menjadi takut. Dia rangkul Ibu. Bunyi tembakan senapan angin itu tak berhenti. Akhirnya dentuman yang keras berhasil membuat kami di dalam rumah menjadi kaget. Ibu menggenggam erat tanganku. Ibu tahu aku mau keluar rumah untuk melihat.

Baca Juga : Hidup Untuk Kredit

            “Masih hidup itu, tembak saja lagi,” suara Teman Ayah semakin lantang. Bunyi tembakan senapan angin berhasil menutup raungan panjang yang tadinya tidak berkesudahan.

            “Itu apa Bu?”

            “Bu, buatkan minum dulu!” perintah Ayah dari luar rumah. Ibu menjawab pertanyaanku dengan memindahkan Tasya ke pelukanku. Sungguh aku rasa Tasya ketakutan sekali. Dia sembunyikan kepala di ketiakku. Aku tak hiraukan kondisi di luar rumah. Aku lebih memilihmelihat Tasya yang seperti membutuhkanku.

            “Sayang, Tasya jangan takut ya!” aku cium – cium Tasya. Tapi tidak berubah juga, Tasya masih ketakutan.

            “Popol Popol!” namaku dipanggil. Tak lama ada Kawal masuk. Dia anak dari Teman Ayah. Dia lebih kecil daripada aku. Ternyata sedari tadi dia berada di luar.

            “Di luar sedang apa?” tanyaku.

            “Tembak hewan yang rusak kebun. Kata Bapak aku main di dalam dulu,” jawab Kawal.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X