Artiseni

PESTA KEMERDEKAAN

Pukul enam pagi semua orang sudah memulai aktivitasnya. Baru saja aku terbangun dan membuka jendela menyegarkan ruangan dan menyapa pagi yang memancarkan cahaya matahari yang genit mengelus wajahku. Suara dari speaker masjid sayup – sayup terdengar. “Sebuah pengumuman pikirku. Kupasang daun telinga ke arah sumber suara. “Pengumuman berita kematian tetanggaku yang rumahnya di ujung jalan dan akan di kebumikan hari ini jam Dua siang nanti”.

Karya Pulung LA

Pukul enam pagi semua orang sudah memulai aktivitasnya. Baru saja aku terbangun dan membuka jendela menyegarkan ruangan dan menyapa pagi yang memancarkan cahaya matahari yang genit mengelus wajahku. Suara dari speaker masjid sayup – sayup terdengar. “Sebuah pengumuman pikirku. Kupasang daun telinga ke arah sumber suara. “Pengumuman berita kematian tetanggaku yang rumahnya di ujung jalan dan akan di kebumikan hari ini jam Dua siang nanti”. “Ibu Parjiem  akhirnya meninggal tetapi lebih baik seperti itu dari pada sakit yang tak berkesudahan. Aryo menggeliatkan badan meregangkan seluruh otot – otot syarafnya sambil melangkah keluar untuk menyegarkan badan.

Orang – orang kampung berkumpul di tempat pak RT untuk mengadakan kerja bakti yang sudah ditetapkan hari ini untuk menyambut hari kemerdekaan RI. Bapak – bapak dan para pemuda bercampur menjadi satu untuk kerja bakti ini. Pak Karmin dan pak Suparjo nampak bersemangat sekali mengecat gardu dengan warna biru. Tak henti – hentinya kuas menyapu permukaan tembok itu. Pak Hadi dan pak Bambang juga sibuk mengecat pagar – pagar rumah setiap warga. Beberapa lagi tampak sibuk membersihkan setiap rumput yang tumbuh di halaman itu. Mereka benar – benar bekerja dengan baik. Halaman di depan rumah pak RT memang biasa di gunakan untuk malam tirakatan. Para pemuda seperti aku juga terlibat dalam kerja bakti itu.  Ardi memanggul beberapa bilah bambu yang telah dipotong oleh Santo dan kemudian Jefrry mendapat bagian untuk mengecat bilah bambu itu. Setelah semua selesai baru bambu dipasang berdiri untuk jadi tiang – tiang bendera yang di pasang di seluruh tempat itu.

Suasana tampak riuh dan akrab mereka semua bergotong royong untuk membuat tempat itu menjadi indah di lihat mata. Tua muda semuanya bekerja sama untuk tujuan itu tak ada lagi perbedaan semua senang dan lelah bersama. Sementara itu ibu – ibu sedang memasak di tempat Bu Darmi yang memang sengaja dibuat untuk dapur umum. Mereka memasak dalam porsi besar di atas wajan besar. Uap mengepul menimbulkan bau harum khas yang membuat air liur menetes dari sudut bibir. Semua ibu – ibu bekerja dengan trampil sesuai dengan keahliannya di dapur. Bu Mira bercanda dengan bu Retno di samping tungku yang sedang menyala.

“ Bu kalau tiap hari begini kita gak perlu repot – repot untuk makan.

 “Iya Bu Mira semua menjadi seperti saudara kalau dalam acara tujuh belasan. Sambil menaburkan garam ke dalam masakan yang mendidih itu.

“ Lihat saja itu, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah bu Mira. Bu mira melihat yang dimaksudkannya.

“ Iya biasanya Bu Karti dan bu Jemi selalu saja bertengkar tetapi sekarang mereka terelihat rukun berdekatan membicarakan sesuatu sambil bercanda. Dua ibu – ibu itu tersenyum senang dan kembali meracik sayuran untuk menambahkannya kemasakan.

Bapak – bapak sudah berkumpul di atas tikar pandan yang sengaja diletakkan di tempat agak teduh untuk beristirahat. Makanan sudah tersedia di atas tikar. Nasi dalam bakul yang masih mengepulkan uap panas dan sayuran yang juga mengepulkan uap panas dan lauk pauk yang mengundang selera. Ibu – ibu menyiapkan peralatan makan dan menyiapkan minum teh panas dan air putih untuk melancarkan tenggorokan yang haus.

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X