Artiseni
Cloud Hosting Indonesia

Puisi Darani Diraya

Dalam rumah laksana keong

Berlindung demi menjaga diri

Tertunduk masuk mendengar sirine

Bak bidawang dalam tempurung

Hati jenuh tak berinteraksi

Mata penat menatap pantulan

Tekanan dari berbagai arah

Seakan bukan makhluk sosial

Suara teriak lapar terdengar

Suara rintih kesakitan terkuak

Suara lirih lelah tergema

Suara terakhir diiringi tangisan

Darani…

Dirimu pasti segera pulih

Kekokohanmu tak tertandingi

Senyum haru bangga menanti

Darani…

Dirayamu kurindukan

Mungkin ini waktumu beristirahat

Tapi jangan lama-lama

Darani Diraya merupakan dua kata yang berasal dari bahasa Sansekerta. Darani berarti bumi atau tanah; sedangkan Diraya berarti kokoh, berani, kesabaran (Purwadi dan Eko Priyo Purnomo, 2008). Pengarang memadukan dua kalimat ini menjadi Darani Diraya yang artinya bumi yang kokoh.

Penulisan puisi Darani Diraya merupakan ilustrasi kehidupan saat ini dengan adanya pandemi COVID-19. Pengarang terinspirasi oleh kehidupan sosial masyarakat saat ini; gairah masyarakat untuk ke luar rumah namun dibatasi oleh rasa takut terjangkit serta kegelisahan karena mendengar sirine ambulans yang menjemput tetangga atau siapapun di lingkungan mereka (situasi ini dijelaskan pada bait pertama).

Pengarang menyebut “bak bidawang” mengartikan bahwa manusia saat ini menyembunyikan kaki dan tangannya dalam tempurung atau rumah tetapi lehernya (yang dimaksud pengarang adalah kepala, telinga, dan mata manusia) menjulur dari tempurung mereka untuk mendengar atau menyaksikan penjemputan masyarakat yang perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kondisi kesehatannya. Bidawang merupakan bahasa daerah Kalimantan Timur untuk mengartikan hewan labi-labi.

Selanjutnya, pengarang mewakili pihak-pihak yang diharuskan untuk bekerja atau belajar secara work from home; dengan menggambarkan rasa lelah menatap layar ponsel ataupun laptop mereka, tekanan (deadline) mengenai tugas dari atasan ataupun organisasi yang menjadi beban tersendiri bagi para pejuang work from home. Sehingga, dalam situasi ini tetap dalam kondisi “waras” saja sudah menjadi hal yang patut disyukuri. Menggunakan kalimat “seakan bukan makhluk sosial” menggambarkan situasi dimana masyarakat tidak dapat bersosialisasi seperti layaknya makhluk sosial sebelum adanya pandemi.

Pada bait ketiga, pengarang mengambil keluhan atau keresahan yang terdengar dari masyarakat dan menjadi beban bagi mereka, terutama pada baris terakhir; bagian ini dituliskan untuk menggambarkan situasi mereka yang kehilangan orang terkasih akibat terpapar virus ini.

Akhir kata, pengarang mengharapkan agar situasi semakin membaik; dan pengarang percaya bahwa akan sampai waktunya senyum bahagia seluruh masyarakat kembali berseri dan dengan bangga kita semua akan mengatakan “kami telah menang. Kami telah menyelesaikan pertandingan melawan pandemi ini dengan baik.”

REFERENSI

Purwadi dan Eko Priyo Purnomo. 2008. Kamus Sansekerta Indonesiahttps://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://kalamkopi.files.wordpress.com/2017/04/purwadi-kamus-bahasa-sansakerta.pdf&ved=2ahUKEwjfv8fJspbsAhVRVH0KHQukDWIQFjAAegQIBRAC&usg=AOvVaw3qdvihjvRTqw4ZYwoDc1XK diakses pada 02 Oktober 2020.

Pengarang: Catherine Lawinata

Penyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X