Artiseni

PUSARAN MAGIS DALAM EBEG DAN EMBLEK

Cloud Hosting Indonesia

Memiliki kesenangan atau hobi pada kegiatan seperti membaca, bersepeda, atau main game mungkin adalah hal yang lumrah. Tapi mengenal, menyenangi, atau aktif dalam kesenian semacam Ebeg, Kuda lumping,  Lengger dan yang semacamnya  mungkin akan menambah pengalaman unik dalam hidup anda.

Misalnya saja menonton orang yang tidak sadarkan diri lalu menari lenggak-lenggok dengan luwesnya, dilanjutkan dengan mengunyah beling seolah-olah beling adalah gorengan, hingga riuhnya suasana ketika acara dilangsungkan menambah “nikmat” tersendiri bagi para penikmat kesenian ini tersebut.

Lalu apa itu Ebeg?

Ebeg merupakan bentuk tarian tradisional yang berasal dari Banyumas.

Foto salah satu rangkaian pertunjukan Ebeg/Sumber:tangkapan layar kanal youtube Dragon Record

Kesenian ini menggambarkan kegagahan prajurit dalam berkuda dan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan Ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut Bendhe. Ebeg memiliki kemiripan dengan kesenian seperti Jathilan, kuda lumping ataupun kuda kepang.

Kesenian ini bisa dibilang magis karena pemain Ebeg akan kesurupan disaat pemain tersebut sedang menari. Dengan berbekal seperangkat sesajen dan bakaran kemenyan para pemain bisa mendhem (kesurupan) dan tak sadarkan diri lagi.

Dalam posisi seperti itu diyakini raga yang ada sudah dikuasai oleh roh halus. Lalu munculah adegan membahayakan seperti memakan kembang-kembangan, pecahan kaca, buah kelapa, hingga ayam hidup  yang katanya tidak dirasakan sama sekali oleh pemainnya ketika dalam kondisi mendhem. Rasa sakit biasanya akan muncul setelah pemain sadarkan diri.

Ebeg dengan kuda lumping bisa dibilang hampir sama. Menurut Embar Wiryanto salah satu pendiri kelompok Ebeg di Banyumas menjelaskan jika ada perbedaan antara Ebeg dengan Kuda lumping yang ada atau jaranan.

Ebeg Banyumas dinilai lebih liar dan merakyat ketimbang jenis jaranan lainnya. “Ebeg itu tariannya kasar, kalau Jathilan atau jaranan kan gerakannya halus. Kalau Ebeg asal  joget ngikuti kendang aja.” tutur Embar dalam wawancaranya bersama Vice.com pada 18 November 2019.

Kemunculan Ebeg sendiri memiliki banyak versi, ada yang mengatakan jika kesenian ini sudah ada sejak dari zaman purba. Masa dimana manusia mulai menganut aliran kepercayaan dinamisme atau animisme.

Hal itu dibuktikan dari  bentuk bentuk mendem selama pementasan berlangsung.  Bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animism dan dinamisme.

Ada pula yang mengatakan jika kesenian Ebeg merupakan salah satu media dakwah yang digunakan oleh Sunan Kalijaga. Layaknya wayang, dengan diadakannya Ebeg diharapkan dapat mengumpulkan banyak orang  dikala itu.

Lalu ada beberapa seniman berpendapat  jika Ebeg adalah bentuk atau gambaran perjuangan pasukan berkuda Pangeran Dipenegoro.

Bergeser sedikit ke arah timur tepatnya ke Kabupaten Purworejo, terdapat kesenian kuda lumping atau dikenal dengan nama emblek yang hampir serupa dengan Ebeg dari Banyumas. Hanya saja, emblek mungkin tidak se “gila” atau se “ekstrem” ebeg walaupun sebenarnya sama-sama mendhem dan sama sama makan beling  juga.

Tarian emlek/Sumber:situs PPID Wonosobo

Banyak faktor yang menyebabkan kesenian ini selalu ramai dan menjadi primadona masyarakat. Selain karena memang seru dan menantang, hiburan ini bisa mudah ditemui dan tentunya gratis. Selain itu, menurut pengalam penulis, memiliki ingon-ingon atau “peliharaan” roh halus menjadi sebuah kebanggan tersendiri yang tentu akan meningkatkan strata sosial dalam pergaulan.

Banyak teman-teman saya yang dengan sengaja mau melakukan “laku tirakat” seperti berendam di sungai, bersemedi di gunung atau bermalam dalam goa untuk mendapatkan ingon-ingonnya. Dengan harapan banyak faedah yang didapat semacam kebal terhadap rasa sakit hingga kekuatan memikat wanita  hanya melalui  satu senyuman. Entah benar atau tidak tapi itulah kenyataannya.

Kedua kesenian ini, Emblek ataupun Ebeg, selalu laris diadakan jika sudah mendekati hari besar seperti perayaan HUT kemerdekaan RI, atau acara-acara sunatan hingga hari besar Islam. (Muhamad Iqbal)

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X