Artiseni
Rumah dan keluarga
Cloud Hosting Indonesia

SAAT RUMAH MENJADI RUMAH

Oleh : Gian Virgiawan

Yohanes berlari kencang membelah kampung. Dia tak hiraukan apa pun. Dia juga tak sadar noken penuh keladinya tertinggal di belakang. Dia terus berlari menuju rumah sahabatnya. Sekali dia menoleh ke belakang, diam sejenak terpaku pada pesawat terbang perintis yang meninggi jauh dan menghilang dari pandangan tertelan bukit.

            Dia sampai di sebuah persimpangan. Dia tersenyum melihat sahabatnya berdiam di depan salah satu kios. Belum selesai nafasnya penuh, masih dengan tersengal, dia menemui sahabatnya.

            “Kiel, kau punya Mama sudah datang.”

            “Iyo, tante sudah beritahu tadi. Dia bilang pesawat hari ini,” jawab Yehezkiel sambil menghabiskan minum.

            “Lalu kenapa kau tak datang ke airport?” tanya Yohanes lagi. Bandara kecil yang hanya menampung pesawat terbang perintis dan sesekali helikopter itu, masyarakat sebut dengan airport. Setidaknya itulah sebutan orang – orang kulit putih saat membangun proyek bandara. Pesawat di airport hanya datang untuk menjemput atau sekedar mengantar dan nanti akan terbang kembali. Tak menetap lama. “Pulang sudah, nanti dia tunggu,” lanjut Yohanes.

Baca Juga : Cepen Orang Utan dan Hilangnya Hutan

            “Tidak tahulah Yohanes, saya bingung,” jawab Yehezkiel sambil meraih kunci motornya. Dia tatap Yohanes. Dia angkat bahunya tanda ketidaktahuan. Sepeda motor lalu dinyalakan. Yehezkiel melaju meninggalkan Yohanes di depan kios samping persimpangan.

            Saat yang sulit bagi Yehezkiel. Mama kandungnya pergi tanpa membawa dirinya lima belas tahun silam. Dia tidak tahu berapa usianya waktu itu. Saat itu, dia hanya tahu, dia belum lancar bahasa Indonesia dan belum bisa menyebutkan dan membedakan warna.

Bapaknya pergi entah ke mana. Kata orang sekitar, dia pergi ke kota. Mama menyusul dan sampai saat ini belum kunjung juga kembali. Selama ini, Yehezkiel tinggal di tempat tante.

Pada hari ini menjadi saat yang sulit sebab Mama kandungnya telah kembali ke kampung. Mamanya datang naik pesawat. Mamanya datang secara tiba – tiba dari angkasa.

            Hanya satu teman Yehezkiel, yaitu Yohanes yang  selalu menjadi tempat bicara bagaimana rindu dirinya pada seorang Mama. Pernah sekali waktu Yohanes diberikan keladi bakar oleh Mamanya. Yehezkiel melihat itu. Yehezkiel lalu selalu membayangkan, bagaimana rasanya Mama yang dicintai memberi sepotong keladi bakar. Yohanes sadar akan hal itu. Dialah yang kemudian membagi keladi bakarnya. Yehezkiel tak pernah sepi lagi setelah itu.

            Paman Yehezkiel sempat menyinggung Mamanya sesekali. Dengan nada yang kurang menyenangkan dia bicara.

            “Dia sudah lupa soal kau. Kasih tinggal sudah,” kata Pamannya di malam dalam honae.

Baca Juga : Cerpen Kemerdekaan dan Budaya Minuman

            Teman sebaya Yehezkiel yang lain juga tak pernah mengerti. Mereka sempat mengolok – olok tapi tak bertahan dalam waktu yang lama. Yohanes saja yang selalu setia menerima cerita dari Yehezkiel tentang bayang – bayang seorang Mama.

            Di ujung airport, Mama Matilda akhirnya bernafas lega. Perjalanan dengan pesawat perintis memang selalu mendebarkan. Saat cuaca baik perjalananan mungkin akan beda cerita saat cuaca menjadi buruk. Parahnya lagi kondisi cuaca pilot juga sedang tidak baik karena salah satu penumpang memaksa naik sambil membawa seekor ayam.

            Mama Matilda merasa bersyukur. Sudah 15 tahun dia berpisah dengan kampung kelahirannya. Dia rantau ke kota. Tempat ketidakpastian menjadi lebih nyata untuk dirasakan. Dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Dari buruh cuci hingga juru masak di dapur. Dia sekarang sudah kerja di salah satu PT sebagai juru masak.

Saat Bapaknya meninggal di kampung satu minggu yang lalu. Mama Matilda juga tak bisa berbuat banyak. Untung temannya berhasil membujuk Bapak Bos supaya Mama Matilda diberikan cuti. Akhirnya Mama Matilda berhasil mendapatkan cuti untuk pulang menuju kampung.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X