Artiseni

SRIKANDI CILIK PELANJUT JUANG KARTINI

Kartini telah berhasil memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia yang direnggut, kini waktunya meneruskan perjuangan dengan berprestasi melalui apa yang kita cintai.

Penulis: Nada Pertiwi

Setiap tahunnya kita memperingati tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Hal tersebut dilakukan untuk memberi penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini karena telah menjadi pahlawan dalam memperjuangkan kebangkitan kaum perempuan di Indonesia. Kala itu perempuan Indonesia berkedudukan di bawah kaum laki-laki, dilarang bersekolah, dan harus menikah di usia muda lalu fokus untuk mengurus keluarga. Berkat perjuangan Kartini, kini perempuan Indonesia dapat mengenyam pendidikan seluas-luasnya dan memiliki otoritas terhadap pilihannya sendiri.

Nah, maka dari itu janganlah kita menyia-nyiakan perjuangan Kartini. Kita dapat meneruskan perjuangan dalam berbagai bidang yang kita sukai seperti dalam bidang kesenian, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan masih banyak lagi.

Tidak perlu menunda-nunda untuk mengamalkan nilai juang Kartini. Tidak pula perlu menunggu dewasa dan telah bermandikan uang untuk dapat dinyatakan sukses. Semoga adik-adik dibawah ini dapat menjadi insprirasi bagi kita bahwa kontribusi melanjutkan perjuangan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dalam bentuk yang bermacam-macam.

Berikut srikandi-srikandi cilik yang berhasil mengharumkan nama bangsa melanjutkan juang Kartini.

1. Syahrozad Zalfa Nadia

Photo: Viva.co.id/Afra Augesti

Syahrozad Zalfa Nadia atau kerap disapa Oca merupakan siswa asal MTs Pembangunan UIN Jakarta yang pada usia 12 tahun telah memenangkan banyak kompetisi robot Internasional. Kecintaan Oca terhadap robot telah ada sejak dirinya masih berada di sekolah taman kanak-kanak (TK) . Oca pertama kali mengikuti kompetisi robot yakni ketika adiknya Avicenna Roghid Putra Sidik (8 tahun) kekurangan tim untuk lombanya sehingga Oca masuk kedalam tim untuk membantu. Sejak saat itu, mereka berdua banyak memenangkan kompetisi robot di kancah Internasional seperti Gold Prize Champions Category Steam Mission Indonesian Robot Festival (I-ROFEST) 2015, Gold Prize Category Soccer Robotic Junior Asian Youth Robotic Olympaiad (AYRO) 2016, Excellence Award Category Steam Missions IYRC South Korea.

2. Hasnah Shofwatul Azizah

Photo: Republika.co.id

Dalam ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) di Uni Emirat Arab pada 2018 silam, Hasnah Shofwatul Azizah (13 tahun) asal Jawa Barat merupakan juara III dalam ajang Internasional tersebut. Sebelumnya, Hasnah terlebih dahulu berlomba bersama 15 peserta lain asal Indonesia untuk dapat pergi ke Uni Emirat Arab. Setelah melalui proses yang perlombaan yang panjang, akhirnya Hasnah terpilih untuk mewakili Indonesia.

3. Felicia Grace Angelyn Ferdianto

Photo: Tribun Jateng/Rifqi Gozali

Pada usia 12 tahun, Felicia Grace Angelyn Ferdianto asal Kudus berhasil mengharumkan nama Indonesia berkat mendali emas yang berhasil dibawanya pulang pada perlombaan Bulgarian Mathematics Competition di Bulgaria pada 2018 silam.

4. Isabel Wijsen dan Melati Wijsen

Photo: CNBC.com

Isabel (15 tahun) dan Melati (17 tahun) merupakan anak-anak Indonesia yang berhasil meraih Penghargaan Bambi di Jerman pada 2017 dengan program Bye Bye Plastic Bag. Program Bye Bye Plastic Bag merupakan sebuah program yang digunakan untuk menghadapi persoalan sampah di Indonesia, terutama di Bali tempat mereka berdua tinggal. Kini, program dan tim Bye Bye Plastik Bag tidak hanya ada di Indonesia namun telah mengembangkan sayapnya ke negara Nepal, India, Myanmar, Philipina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, Spanyol, Denmark, Jerman, London, Nigeria, New York, Meksiko, Australia, Selandia Baru, dan masih banyak lagi.

5. Sandriana Azzahra

Photo: Grid.id
Photo: sandrinastudio.weebly.com

Sandriana Azzahra adalah penari cilik yang banyak kita kenal melalui program Indonesia Mencari Bakat (IMB) tahun 2013 silam. Kemahiran Sandriana dalam menarikan tarian tradisional membawanya menjadi juara pertama dalam ajang tersebut. Enam tahun berlalu, kini Sandriana telah mendirikan sanggar tari Sandriana Studio yang berlokasi di Jawa Barat. Sandriana Studio sendiri berfokus pada pelestarian dan pengembangan tari tradisional Jaipong.

Itu dia para srikandi cilik yang berhasil menorehkan prestasi di bidang yang amat beragam. Tanpa Kartini, mungkin sampai hari ini kita kaum perempuan akan tetap terbelenggu di dalam rumah tanpa membaca buku, tanpa belajar, dan tanpa pengetahuan.

Buka wawasanmu seluas-luasnya.

Jangan biarkan perjuangan Kartini hilang sia-sia.

Lanjutkan semangatnya dengan apapun yang kamu bisa.

Salam Kartini, salam perempuan yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Part of Artiseni. Sangat tertarik pada bidang jurnalistik, penyiaran, hiburan, fotografi, dan musik kpop.

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, Maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X