Artiseni
Cloud Hosting

Syuting Film Tanpa Berkerumun Kini Bukan Masalah

Industri perfilman Indonesia mengalami hantaman keras selama pandemi. Pintu ribuan gedung bioskop terpaksa tutup. Sineas berhenti bekerja. Rumah produksi dalam negeri pun rugi jutaan rupiah.

“Ada film yang selesai, tapi bioskop tutup enggak bisa main. Ada film yang sedang post-production tidak bisa dilaksanakan. Ada film yang sedang syuting juga tidak bisa diteruskan karena ada lockdown,” jelas Chand Parwez pendiri Kharisma Starvision Plus.

Saat bioskop tutup, aplikasi OTT (Netflix dan Viu) menjadi sarana alternatif pemasaran film. Tapi, bagaimana dengan proses syuting yang butuh banyak orang? Perkembangan teknologi mau tak mau kembali menjadi jalan keluar. Kreativitas sineas dan teknologi wajib berpadu demi menyukseskan film.

Serial Filipina Gameboys (2020) membuktikan film tidak perlu banyak kru, cukup teknologi. Penonton melihat perjalanan tokoh dalam film hanya dari layar gawai. Komunikasi dan aktivitas aktor diperlihatkan lewat video call atau media sosial, tanpa sudut pandang ketiga dari kamera. Ini inovasi kreatif bagi sineas yang dilarang berkerumun saat syuting.

Serial Gameboy/Sumber:tangkapan layar kanal Youtube The IdealFirst Company

Green screen banyak digunakan dalam produksi film luar negeri berskala besar. Kru dan aktor tidak perlu pindah lokasi untuk syuting berbagai latar tempat, cukup edit layar hijau. Syuting adegan sulit seperti terbang juga lebih mudah. Green screen kecil-kecilan mungkin dilakukan di rumah jadi kita tidak perlu pergi ke studio.


Green screen bantu sineas syuting selama pandemi walau dari rumah saja/Sumberl:filmora

Film Shaun The Sheep menggunakan teknik stop motion untuk menggerakkan ‘aktor’. Teknologi, sains, dan seni bergabung dalam teknik ini. Sineas harus hati-hati dan tekun mengampil foto objek yang digerakkan perlahan. Selanjutnya, kita bebas berkarya dengan berbekal gawai.

Pengerjaan stop motion animasi Shaun the Sheeo/Sumber:tangkapan layar kanal Youtube Movieclips Coming Soon

Dulu, film butuh puluhan hingga ratusan kru produksi serta membangun lokasi khusus sebagai latar cerita. Teknologi semakin maju membuat film mudah dibuat hanya dari rumah atau dalam satu ruangan. Dua tiga tahun lagi, siapa tahu kita bisa menonton film panjang berbentuk hologram, bukan cuma 3D atau 4D. Selama kreativitas jalan, karya seni canggih pasti tercipta.

Penulis: Erwina Rachmi

Penyunting: Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, Maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X