Artiseni

Tari Hudoq, Wujud Ungkapan Syukur Suku Dayak Bahau

Oleh: Catherine Lawinata

Mengenal kesenian yang ada di Kalimantan Timur berarti mengenal juga salah satu tarian yang menjadi andalan masyarakat suku Dayak Bahau yaitu Tari Hudoq.

Tari Hudoq merupakan salah satu tarian yang berasal dari Kalimantan Timur. Tarian ini menjadi bagian warisan dari Suku Dayak Bahau yang dijalankan setiap tahun pada bulan September sampai dengan November, biasanya diadakan setelah selesai menugal atau menanam padi.

Tarian Hudoq menjadi wujud penghormatan kepada bumi dan alam, ucapan syukur kepada para leluhur,  sekaligus tarian pengusir hama, pengusir hewan buas, atau bencana alam yang dapat mengakibatkan kegagalan pada masa panen masyarakat setempat.

Tari Hudoq/Indonesiakaya.com

Menurut mitos yang beredar pada masyarakat Kalimantan Timur, topeng Hudoq ini merupakan ciptaan roh di luar diri manusia, dalam bahasa lokal disebut Tok Jeliwan Tok Hudoq. Jeliwan artinya ular kobra, tok artinya roh, dan Hudoq artinya topeng. Topengnya sendiri berbentuk macam-macam, namun kebanyakan topeng Hudoq akan menyerupai bentuk burung.

Saat ritual, tubuh para penari hudoq ditutupi pakaian yang terbuat dari dedaunan atau tali rafia berwarna hijau yang melambangkan kesejahteraan dan kesejukan; tak lupa juga para  penari mengenakan topeng kayu yang telah dipahat dan diukur menyerupai burung dengan warna dominan merah yang menurut kepercayaan masyarakat menjadi warna kesukaan para dewa atau leluhur.

Topeng hudoq terdiri dari beberapa jenis yakni topeng manusia (menggambarkan utusan para leluhur yang mewariskan padi dan ladang), naga (menggambarkan utusan roh yang akan mendatangkan hujan), sedangkan burung dan babi (melambangkan roh yang akan mengusir hama).

Berat seluruh kostum kurang lebih sekitar 10 kilogram, sehingga muncul kepercayaan masyarakat bahwa para penari dirasuki oleh roh nenek moyang agar tetap kuat melakukan tarian dari pagi hingga sore. 

Gerakan tarian hudoq menyerupai gerakan burung yang sedang terbang mengepakkan sayapnya, para penari mengangkat tangannya sampai setinggi bahu sebagai gambaran burung yang mengepakkan sayapnya, kepala yang mengangguk-angguk sebagai bentuk menerima roh yang akan merasuki tubuh para penari, disertai dengan hentakan kaki yang keras.

Namun perlu disadari, eksistensi Hudoq tidak bisa dipisahkan dari tradisi berladang. Jika dipikir kembali saat orang Bahau tidak berladang lagi, maka Hudoq pun akan hilang. Jika pun masih ada, ia tidak mempunyai makna magis lagi, menjadikannya sebuah seni tanpa makna.

Kekhawatiran hilangnya hudoq makin hari makin dirasakan generasi tua Dayak Bahau, karena semakin kecilnya lahan untuk berladang akibat masuknya perusahaan hutan yang menguasai, serta orang luar yang masuk untuk mengeksploitasi kayu. Sehingga untuk menjaga kelestariannya, setiap tahun tarian Hudoq ini dijalankan dalam bentuk festival yang selalu berganti tempat mengelilingi wilayah Kalimanta Timur, salah satu festival yang diadakan di Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur dinamakan Festival Mahakam, hal ini dikarenakan tempat pelaksanaan festival berdekatan dengan salah satu sungai terbesar di Indonesia yaitu sungai Mahakam.

Festival Mahakam menjadi salah satu festival besar yang ditunggu oleh masyarakat Kalimantan Timur, tidak hanya masyarakat lokal tetapi para wisatawan dari mancanegara juga turut menyaksikan langsung perayaan besar ini. Meski masyarkat umum hanya diperbolehkan menjadi penonton, hal ini sama sekali tidak mengurangi antusias mereka untuk membawa keluarga ataupun anak-anak mereka untuk menonton kebudayaan ini.

Pelaksanaan festival Mahakam/Eljohnnews.com

Masyarakat Kalimantan Timur pun secara tidak langsung sangat menghargai kebudayaan ini, meskipun ketika acara berlangsung mengakibatkan banyak jalan utama yang harus ditutup, hal ini tidak membuat masyarakat melakukan protes ataupun melakukan tunjuk aksi. Peristiwa ini menujukkan adanya rasa  toleransi yang dijunjung tinggi masyarakat sehingga menghidupkan lingkungan masyarakat yang harmonis dan saling menjaga.

Referensi:

Muliawan, Fachrizal. 2018. Mengikuti Festival Hudoq Terbesar di Dunia, Menari setelah Menanam Padi . https://kaltimkece.id/mereka/humaniora/mengikuti-festival-hudoq-terbesar-di-dunia-menari-setelah-menanam-padi, diakses pada 04 September 2020.

Setiawan, Agus. 2016. Kesenian Tari Hudoq Suku Dayak Bahau dan Modang. https://nusantaranews.co/kesenian-tari-hudoq-suku-dayak-bahau-dan-modang/, diakses pada 04 September 2020.

Wibowo, Ari. 2018. Hudoq, tarian leluhur dari Hulu Mahakam.https://www.wwf.or.id/?68703/Hudoq-tarian-leluhur-dari-Hulu-Mahakam, diakses pada 04 September 2020.

Penyunting:

Nada Pertiwi

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, Maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X