Artiseni

Tenggelam Bersama “Kita Dalam Satu Sudut Pandang” Retno Pinanti

Oleh: Nora Amalia

Lukisan Milik Retno Pinanti Khairunnisa “Kita Dalam Satu Sudut Pandang

Retno Pinanti Khairunnisa atau biasa orang memanggilnya dengan Pinanti adalah seorang seniman lukis perempuan kelahiran Pati, 4 Oktober 2000. Saat ini Ia bekerja di KPP Jakarta Taman Sari Satu di daerah Jakarta Barat. Pinanti merupakan seseorang yang menekuni hidup minim sampah plastik, mengisi kekosongannya dengan merawat tanaman, memasak, dan menuangkan cerita perihal kehidupannya melalui tulisan.

Pinanti mulai menyukai dan membiasakan jemari-jemarinya menari menjadi sebuah gambar sejak kecil sekali, bahkan sebelum ia masuk di bangku Taman Kanak-kanak. Semua ini bermula dari kegemarannya mencorat-coret apapun yang ia lihat dalam media kertas dan pensil warna.

Lahir dan tumbuh bersama ayah yang memiliki kegemaran akan menggambar menjadi satu faktor pendorong Pinanti untuk menjadi seseorang yang menggeluti dan mencintai Seni Rupa. Dari ayahnya, ia belajar untuk menyalurkan ragam emosi seperti marah, sedih, kecewa, dan resah dalam sebuah lukisan ketimbang menjadikan orang lain sebagai korban pelampiasan.

Harapan yang ia taruh di media lukis tak lebih dari untuk mengurangi rasa gelisah, kurang bersyukur dan rasa tidak enak yang sering datang di pikiran dan hati. Untuk mencapai di titik yang sekarang, ia sempat berbelok kebanyak jalan seperti menggeluti seni tari dan tembang mocopat, Pada akhirnya, dukungan dari banyak pihak mendorongnya untuk bermuara dan mulai konsisten dalam berkiprah di dunia seni rupa.

Proses Pinanti menemukan style lukis yang tepat melewati perjalanan panjang, seperti mencoba media canvas, memakai kuas, bahkan pisau palet. Kenyamanan tersebut akhirnya ditemukan pada media cat air.

Dalam hal menciptakan lukisan, ide-ide muncul dari keresahan Pinanti sendiri. Di latarbelakangi oleh pribadi yang tidak mudah mengutarakan atau mencurahkan sesuatu yang dirasakan lewat lisan ke orang lain, melahirkan sosok Pinanti yang melihat lukisan ibarat tong sampah yang berisi banyak emosi dan dapat digunakan sebagai media pengontrol diri. Tidak jarang ia menjadikan sosok seniman bernama Roby Dwi Antono dan banyak seniman lokal lain sebagai inspirasi dalam menemukan teknik menggambar dan watercolor yang sesuai dengan ide lukisannya.

Salah satu lukisannya yang diberi nama “Kita Dalam Satu Sudut Pandang” adalah satu-satunya lukisan yang selalu ia bawa setiap kali berpindah atap rumah. Lukisan yang ia lukis ketika akan mengakhiri masa Sekolah Menengah Atas itu bercerita banyak hal. Lukisan ini lahir dari rasa sedih yang ia rasakan saat mengetahui perpisahan dengan orang terdekat di bangku sekolah sudah ada di depan mata dan mau tidak mau harus dilewati. Cerita yang selalu dibagi bersama dan dilihat melalui teropong yang sama terpaksa harus dipisahkan oleh kelulusan.

Lukisan ini adalah perwujudan dari doa-doa baik supaya ketika perpisahan sudah menyapa, hal-hal yang dulu selalu dilakukan tetap bisa dilakukan di masa sekarang. Pinanti berharap tetap bisa saling melihat apa yang orang terdekatnya lihat, tetap bisa saling mendengar, meminjamkan teropong satu sama lain dan tidak lupa untuk saling mendukung mimpi-mimpi baik yang sudah direncanakan, tidak peduli seberapa jauh jarak dan dimana pun tempat mereka mengembara di muka bumi. Dibawanya lukisan ini ke mana pun ia pergi bukan tanpa alasan, baginya lukisan ini adalah teman sekaligus daya isi semangat untuknya menjalani hidup saat masa sulit dan berat. “Lukisan ini adalah teman”, begitu kata Pinanti.

Penyunting:

Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Nada Pertiwi

Part of Artiseni. Sangat tertarik pada bidang jurnalistik, penyiaran, hiburan, fotografi, dan musik kpop.

Topics

Recent posts

Ads Widget side bar samping

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Most discussed

Advertisement

  • iklan.jpg
id Indonesian
X