Artiseni
Cloud Hosting Indonesia

TOPENG TERAKHIR

Suara musik gamelan mulai mengalun perlahan dan para penari mulai bergerak pelan mengikuti irama. Lima orang penari menggerakkan tangannya yang gemulai dengan serempak selendang- selendang mereka dikibaskan ke samping. Suara musik pengiring semakin cepat dan tubuh mereka meliuk-liuk bagaikan karet lentur, menjejakkan kaki sambil mengibaskan selendang dan wajah mereka tertutup oleh topeng wajah perempuan cantik yang bergerak-gerak seiring dengan gerakan kepala mereka.

Karya Pulung L A

Suara musik gamelan mulai mengalun perlahan dan para penari mulai bergerak pelan mengikuti irama. Lima orang penari menggerakkan tangannya yang gemulai dengan serempak selendang- selendang mereka dikibaskan ke samping. Suara musik pengiring semakin cepat dan tubuh mereka meliuk-liuk bagaikan karet lentur, menjejakkan kaki sambil mengibaskan selendang dan wajah mereka tertutup oleh topeng wajah perempuan cantik yang bergerak-gerak seiring dengan gerakan kepala mereka. Musik semakin keras dan penari pun semakin lincah bergerak menggerakkan seluruh tubuhnya hingga musik mengalun perlahan dan menghilang. Penari berhenti dalam posisi gerak tubuh indah. Tepuk tangan para penonton bergema memberikan applaus atas pertunjukkan yang mengundang decak kagum.

Dibalik layar Para penari berkumpul mereka saling berpelukan, berciuman melepaskan semua rasa kebahagiaan karena telah berhasil memberikan pertunjukkan yang terbaik. Tangis haru dan rasa yang membuncah dalam kebahagian menjadi aura yang melingkupi mereka. Riyanti duduk di sudut ruangan, Ia sendiri yang tidak berbagi bersama teman-temannya, Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya belum cukup untuk mendapatkan kebahagiaan. Masih banyak kesalahan yang dilakukannya. Tangannya tidak dapat bergerak seperti karet lentur, Ia sedih walaupun semua orang tidak tahu tapi bagi Riyanti itu adalah kegagalan, lagi pula ia sudah muak dengan pujian. Sudah terlalu sering baginya menerima ucapan itu. Hanya satu yang terlintas dalam benaknya, pulang dan tidur.

Beberapa teman menghampirinya, memeluknya dan mengucapkan selamat tetapi ia hanya tersenyum bingung. Dalam hatinya ia berkata.

“ Ucapan yang sama dan membuatku muak, kalau dulu mungkin aku masih bisa menikmatinya tetapi sekarang.”

“  Kamu tadi bagus sekali menarinya sampai aku bengong melihatmu seperti itu. Hanya senyum yang ia berikan dan ucapan terima kasih yang terasa basi di mulutnya.

“ Terlalu banyak kata- kata pujian dan sanjungan yang malah membuatku semakin teperosok pada sifat angkuh bahwa aku jago menari.

“ Aku tidak seperti itu jangan kamu sanjung diriku karena itu menghancurkanku lebih baik kaukatakan bahwa aku kurang bagus itu malah membuatku terjaga. Ia melihat Nina dikerumuni banyak orang yang ingin mengucapkan selamat kepadanya.

“ Ia begitu menikmati hari ini. “ Semua orang memuji penampilannya dan ia menjadi bintang malam ini. “ Cahayanya menerangi kegelapan tetapi kalau ia tidak berhati-hati cahayanya akan menyilaukan mata dan tidak ada orang yang mau melihatnya. Riyanti masuk keruang rias ia membersihkan riasannya dan merapikan perlengkapan itu dalam satu tas yang ia bawa dari rumah.

Dalam kamarnya ia belum tidur, tas tergeletak disudut ruangan dan ia belum ingin membereskannya. Badannya terlentang dan kepalanya miring, matanya menatap tajam pada piala-piala yang berjajar di atas meja. Piala-piala yang ia dapatkan dari menari, menyanyi, lomba bahasa inggris tingkat nasional dan masih banyak lainnya. Piala- piala itu telah memberinya arti pada kehidupannya tetapi sekarang ia sedih menatap Piala-piala itu. Semua pernah diterimanya pujian dan sanjungan yang tidak pernah berhenti sampai hari ini. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, Ia muak dengan kata – kata pujian. Pikirannya sudah tak sanggup lagi menerimanya. Terlalu banyak pujian yang membuatnya menjadi tidak mengerti sebuah rasa sakit. Hidupnya terlalu banyak teracuni pujian yang membuatnya tak pernah mengalami kesulitan yang berarti untuk meraih apapun yang dia inginkan dan ia jenuh dengan semua itu.

“ Pembodohan”. Katanya dalam hati. Dilemparnya ikat rambut ke meja di samping kanannya. Ketegangan mencengkaram urat saraf otaknya. Segala hal sepertinya mudah tetapi sesungguhnya tidak semudah itu.

Admin-Art

Admin-Art

Arsip

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

id Indonesian
X