Artiseni

TUNGGU AKU DI UJUNG JALAN ITU

Karya Pulung L A

Hiruk pikuk taman kota berbaur dengan canda tawa yang meriah, diikuti oleh sangkala yang mengelinding diufuk barat. memancarkan cahaya jingga dilangit membuat lukisan alam yang indah. sementara  wajah-wajah tampak gembira tergambar dalam riasan wajah yang mencolok. semua orang berpasangan, berbicara tentang isi hati mereka. para penjaja makanan tampak gembira melewati hari yang berlimpah dengan keuntungan disaku mereka. Beberapa pelancong memotret dengan kamera menangkap pose-pose tubuh yang bergembira dalam jalinan pertemanan yang ceria. Senyuman penuh rasa cinta, kegembiraan yang meluap, pelukan hangat sang kekasih tidak mampu membuat Unggul larut dalam suasana itu. Duduk di bangku terdiam menatap wajah –wajah mereka dengan pikiran yang sedang kalut memaksanya untuk tetap terdiam.

Cahaya lampu taman semakin terang karena matahari sudah tenggelam, tetapi suasana taman semakin ramai dan romantik penuh pasangan yang berbahagia. Menyalakan rokok dan menghembuskannya ke udara mencoba mengusir pikiran yang semakin kacau. Bayangan wajah seorang sahabat melintasi benaknya berputar-putar tak menentu asap rokok yang ditiup angin mengejeknya di udara bebas.

“ Dia telah pergi meninggalkanku di jalan yang sepi ini beranjak untuk melintasi jalan lain yang penuh liku dan aral yang melintang, sementara aku masih di sini menemani sepi yang tak kunjung pergi dari hadapanku.” Dihembuskan nafas panjang yang mulai menghimpit dadanya dengan rasa sesak. Suara klakson mobil terdengar keras membuyarkan lamunannya.

“Brengsek !… Mobil itu tidak ada apa-apa main klakson sembarangan seperti pingin pamer pada orang – orang miskin seperti aku bahwa dia orang kaya dan bebas berbuat apa saja yang ia suka.” Wajahnya cemberut menahan amarah dan rasa kaget yang bergumpal didadanya.    

Hari semakin gelap, bulan yang mengintip dibalik gedung sudah beranjak di tengah langit memancarkan cahaya keemasan menerangi langit malam. Orang – orang semakin sedikit hanya beberapa saja yang masih ingin menghabiskan malam dengan obrolan tentang banyak hal sebelum pagi membangunkan kesibukan. Berbatang-batang rokok tersebar di bawah bangku taman bercampur dengan kulit kacang rebus. Angin malam semakin menusuk tetapi pemuda itu belum juga beranjak dari duduknya, wajahnya yang semakin berlipat-lipat karena beban pikiran di kepalanya yang belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dirinya.

“ Kapan aku akan berubah menuju harapan yang aku inginkan ? ” Sebentar ia terhenyak oleh pertanyaan itu, disandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Kepalanya mendongak ke atas mencoba melegakan pikirannya. Imajinasinya melayang pada kenangan yang telah banyak dilewatinya. “Sepertinya baru kemarin aku bermain dengan teman-temanku, bermain gundu, mengejar layang-layang, memanjat pohon, dan saat bapak mencari dengan teriakan maka hari itu permainan kami selesai dengan menyisakan kekecewaan dihatiku. Tampak senyum diwajah pemuda itu mengingat masa kecilnya.

 Ia merokok lagi saat rokok dihisap ia teringat sesuatu. Iya Marno temanku yang paling bandel semua teman-temanku pernah dikerjainya dari diceburkan ke sungai sampai dipukulinya hingga babak belur dan Sahid temanku yang paling sering dikerjai oleh Marno hingga menangis. Tertawa kecil dan orang-orang yang melihatnya menatapnya dengan keheranan tetapi Unggul tidak peduli. Terdiam berpikir sebentar.

“ Tetapi sekarang ia dimana ? ” Apa dia sudah jadi orang atau ia semakin menjadi jahat? Tak ada kabar terdengar tentang dirinya. “ Kalau Sahid tahun kemarin aku bertemu dengannya sekarang dia sudah jadi polisi, punya rumah dan istri yang cantik. tubuhnya yang dulu kurus seperti karet sudah tidak lagi. Perutnya buncit, pipinya tembem dan matanya melotot, menatap curiga semua orang mungkin itu yang diajarkan oleh akademi kepolisian. Mata harus selalu melotot dan penciuman harus tajam agar dapat mengendus para penjahat dan pengendara sepeda motor yang tidak memiliki surat-surat lengkap dan itu berarti uang.”

Admin-Art

Admin-Art

Follow us

Kami sangat senang jika berkesempatan berdiskusi dengan anda, maka maka jangan sungkan untuk mengikuti kami

Advertisement

  • iklan.jpg
Kunjungi Chanel Youtube Artiseni
27 Karya Peserta Lomba Membaca Puisi Kontemporer telah di Upload
id Indonesian
X